Ahlan Wa Sahlan

IQRO ( BACALAH )

Bacalah dirimu, Bacalah dari apa engkau dijadikan

Bacalah kejadian demi kejadian, Bacalah masa lalu, dan apa-apa yang ditinggalkan, Bacalah masa kini, dan apa-apa yang ada disekitarmu, Bacalah masa yang akan datang dan apa-apa yang akan dan tentu terjadinya.

Sungguh ALLOH telah memberimu berlimpah-limpah, dan tegak kanlah kebenaran itu dengan daya juang yang tak kenal payah dan henti ( sabar),......................

Selamat datang ana ucapkan kepada akhi dan ukhti, semoga apa yang tertulis di blog ini bermanfaat bagi kita dalam menSyiarkan Islam, serta sebagai media bagi kita untuk saling bersilaturahmi.

Kritik dan saran dapat di sampaikan ke is.majid@gmail.com

Wassalam

AddThis

Bookmark and Share

Kamis, 03 Desember 2009

Namanya Bairuha

Ya, namanya Bairuha’.

Begitu indah dan memikat hati. Sejuk, rimbun, luas, menghadap ke masjid Nabawi di Madinah. Dan yang menjadikannya lebih istimewa lagi adalah karena Rasulullah saw yang mulia pernah memasukinya kemudian meminum airnya yang sejuk.

Bairuha’ adalah nama sebuah kebun kurma yang sangat dicintai Abu Thalhah, pemiliknya.

Tapi tiba-tiba kebun yang begitu prestisius, berlokasi strategis dan bernilai sejarah tinggi itu menjadi tak bernilai sama sekali di mata Abu Thalhah ketika turun ayat berikut:

” Kalian sekali-kali tidak akan mencapai kebaikan, sebelum kalian menafkahkan dari sesuatu yang kalian cintai “(Q.S. Ali Imran: 92)

Demi mendengar ayat di atas, Abu Thalhah segera bergegas menuju Rasulullah kemudian dengan serta merta menyerahkan Bairuha’ beserta segala isinya kepada Rasulullah untuk dipergunakan sebagaimana apa yang diperintahkan Allah kepadanya.

Rasulullah yang bijak memuji tindakan Abu Thalhah ini tetapi menyarankan agar Bairuha’ dibagi saja kepada kerabat Abu Thalhah yang lebih membutuhkan.

Maka dibagikanlah kebun itu kepada kerabat dan sepupu-sepupu Abu Thalhah yang berjumlah sekitar 70 orang. Masing-masing mendapatkan 200 pohon kurma!

Kisah ini diriwayatkan oleh sahabat Anas ra dan dicantumkan oleh Imam Nawawi dalam Bab ke-37 Riyadhus Shalihin yang ditulisnya.

***

Mari belajar dari kisah di atas.

Mungkin kita telah sering berinfaq selama ini. Tapi sudahkah ia infaq yang berkualitas? Atau sekedar infaq “seikhlasnya” yang tidak begitu ikhlas?!

Mari ingat kembali apa yang biasa kita masukkan di kotak-kotak infaq masjid kala jum’atan tiba itu.

Adakah ia lembaran uang terbesar dalam dompet kita, atau sebaliknya? Yang paling baru cetakannya, atau yang paling kucel dan hampir robekkah ia?

Atau mungkin kita terlalu sayang dengan yang lembaran-lembaran itu hingga rela bersusah payah merogoh kantong celana yang paling dalam untuk menemukan kepingan uang logam terkecil bekas kerokan untuk diinfaqkan.

Tak bosan-bosan kita ulang semboyan ini dalam kepala kita, ” tak apa kecil, yang penting kan ikhlas…”

Ikhlas itu harus. Semboyannya juga tidak salah. Yang salah adalah jika mengidentikkan ikhlas dengan yang kecil. Menyamakan ikhlas dengan iseng. Menganggap ikhlas itu tidak harus dengan perjuangan.

Ikhlas adalah perjuangan untuk menjadi murni. Dalam bertindak, dalam berbuat, dalam berkata, dalam beramal, dalam berinfaq.

Ikhlas itu sangat dekat dengan pengorbanan. Dan bukan pengorbanan namanya jika tidak perih dirasa.

Mari kita lihat perbandingan berikut,

Pada suatu sholat jum’at seorang pengusaha dengan aset milyaran dan penghasilan bulanan ratusan juta memasukkan lembaran seratus ribuan ke dalam kotak infaq. Ikhlas lillaahi ta’ala.

Di belakangnya, seorang pedagang es cingcau dengan omzet duapuluh ribu perhari, dengan 3 anak dan satu istri, memasukkan selembar uang seribuan ke dalam kotak infaq. Ikhlas lillaahi ta’ala.

Sama-sama ikhlas.

Tapi apakah antum yakin nilai amal mereka juga sama di hadapan Allah yang Maha Kaya?! Tentu tidak sama!

Jika sama saja, tentu Umar tidak perlu menyesal karena tidak sanggup menyaingi Abu Bakar yang berinfaq dengan seluruh hartanya, sedangkan ia hanya mampu berinfaq dengan separuh harta.

Jika sahabat rasulullah yang tidak diragukan keikhlasannya seperti Abu Thalhah, Umar, Abu Bakar berlomba kuantitas dalam berinfaq, tidakkah kita yang belum jelas kualitas ikhlasnya ini lebih berhajat untuk berinfaq sebanyak-banyaknya demi meraih ridha-Nya?

Mari kita tengok ayat berikut ini,

" Bertaqwalah kamu kepada Allah sesuai kemampuanmu."(Q.S. At Taghabun: 16)

Mastatho’tum dalam ayat di atas, atau yang dalam bahasa indonesianya artinya ’semampunya’ sering dimaknai salah menjadi ’semaunya’ atau ’seenaknya’.

Dengan dalih ayat di atas, seorang aktivis dakwah yang sedang malas berangkat ngaji, memaklumi dirinya sendiri dan memutuskan tiduran di rumah daripada ngaji. Menurutnya, kan taqwa itu sesuai kemampuan…

Dengan dalih ayat di atas pula seorang kaya hanya berinfaq sekedarnya karena ” takut tidak ikhlas ” kalau berinfaq lebih. Dalam hatinya, ” Toh taqwa itu sesuai kemampuan…”

Tentu itu salah. Sesungguhnya bertaqwa sesuai kemampuan berarti kita dituntut beramal sekuat tenaga kita, sebanyak potensi yang dikaruniakan Allah kepada kita. Bukan semau kita.

Mereka yang berkemampuan A namun hanya mau melakukan B menanggung dosa selisih kualitas A dan B (dengan catatan A lebih baik dari B). Demikian menurut Ustadz Anis Matta dalam buku Model Manusia Muslim.

Maka marilah berlatih sejak saat ini untuk memberikan amal terbaik yang kita bisa dan berinfaq dengan yang terbaik dari yang kita cintai.

Jangan lupa, untuk memulai langkah besar perubahan itu dari lingkup terkecil kehidupan kita. Keluarga dan kerabat.


Jiwaku adalah jiwa yang selalu bergejolak.
Setiap ia mendapatkan sesuatu maka ia akan meminta yang lebih.
Kini, aku telah berada di puncak kekuasaan. Maka sekarang jiwaku menginginkan surga.
(Umar bin Abdul azis)


Muhammad Yudhy Herlambang

0 Comments: