Ahlan Wa Sahlan

IQRO ( BACALAH )

Bacalah dirimu, Bacalah dari apa engkau dijadikan

Bacalah kejadian demi kejadian, Bacalah masa lalu, dan apa-apa yang ditinggalkan, Bacalah masa kini, dan apa-apa yang ada disekitarmu, Bacalah masa yang akan datang dan apa-apa yang akan dan tentu terjadinya.

Sungguh ALLOH telah memberimu berlimpah-limpah, dan tegak kanlah kebenaran itu dengan daya juang yang tak kenal payah dan henti ( sabar),......................

Selamat datang ana ucapkan kepada akhi dan ukhti, semoga apa yang tertulis di blog ini bermanfaat bagi kita dalam menSyiarkan Islam, serta sebagai media bagi kita untuk saling bersilaturahmi.

Kritik dan saran dapat di sampaikan ke is.majid@gmail.com

Wassalam

AddThis

Bookmark and Share

Selasa, 26 Januari 2010

Waspadai Pemurtadan

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Para misionaris tak pernah berhenti memutar otak untuk memurtadkan umat Islam.
Bermacam-macam strategi telah diformulasikan dan diujicoba, mulai dari sinkretisme, akomodasi, teologi situasional, indigenisasi, inkulturasi, adaptasi, dan seterusnya hingga ditemukanlah strategi kontekstualisasi misi.

Kata "kontekstualisasi" dimasukkan ke dalam perbendaharaan bidang misi dan teologi sejak diperkenalkan oleh Aharon Sapaezian dan Shoki Coe, direktur Theological Education Fund (TEF) pada tahun 1972, pada sidang Ghana Assembly of the International Missionary Council.

Sidang ini membahas isu yang berkaitan dengan pendidikan teologi di negara-negara dunia ketiga (the third mandate programme of the theological education fund).
Di antara faktor yang menuntut strategi kontekstualisasi dalam misi adalah teologi Barat yang dianggap tidak relevan dengan budaya setempat yang menjadi objek misi.
Dengan kata lain, agenda dan program yang "dimasak" di luar negeri tidak cocok untuk situasi di tempat lain (dunia ketiga).

Kontekstualisasi adalah strategi misi yang diupayakan agar Injil bisa dimengerti dan diterima oleh objek misi, dalam dimensi budaya objek misi yang dinamis, baik secara politik, sosial, dan ekonomi.

Pengertian kontekstualisasi yang mudah diterima adalah cara menabur "bibit" tanpa harus menanam pot dan tanahnya. Maksud "bibit" adalah Injil, sedangkan "pot dan tanah" adalah budaya sang pengabar Injil.

Para misiolog dan teolog juga berbeda pendapat tentang apa yang perlu dikontekstualisasikan.
Apakah Bibelnya, teologinya, atau berita Injilnya? Sejauh mana proses kontekstualisasi itu boleh dilakukan, apakah hanya isinya, bentuknya, atau keduanya?

Di kalangan misiolog, ayat yang paling populer untuk mendukung strategi kontekstualisasi dalam misi pekabaran Injil lintas budaya adalah tulisan Paulus dalam Bibel (1 Korintus 9:20-22).

Menurut Paulus dalam ayat ini, untuk menyebarkan misi kepada orang Yahudi, penginjil harus berpura-pura sebagai orang Yahudi, meski penginjil itu bukan orang Yahudi.

Misi kepada orang yang lemah, sang penginjil harus menjadi seperti orang lemah.
Kepada penganut hukum Taurat, maka penginjil harus berpura-pura sebagai orang yang hidup di bawah hukum Taurat.

Di Indonesia, penerapan strategi kontekstualisasi yang meniru gaya Paulus ini kerap kali membuahkan gesekan dengan umat Islam. Karena strategi kontekstualisasi itu identik wujudnya dengan jurus serigala berbulu domba, musang berbulu ayam.

Kepada umat Islam, para penginjil berpenampilan seperti orang alim, padahal mereka adalah serigala yang menyeringai, setiap saat siap memurtadkan akidah umat Islam. Pendeta Rudy Muhammad Nurdin misalnya.

Ketika menerapkan strategi kontektualisasi, ia menerjemahkan pesan Paulus dalam 1 Korintus 9:20, bahwa kepada orang Yahudi, harus seperti Yahudi.

Kepada kaum muslimin, harus seperti orang Islam dan memakai Al-Qur'an dalam penginjilan, supaya orang Islam tidak marah. Dalam praktiknya, Nurdin menulis belasan buku Kristen berkedok Islam, antara lain:

Ayat-ayat Penting di dalam Al-Qur'an, Keselamatan di dalam Islam,
Rahasia Allah Yang Paling Besar (as-Sirrullahi al-Akbar), Isa Alaihi
Salam dalam Al-Qur'an, Selamat Natal Menurut Al-Qur'an, dll.

Di Bandung, Pnt. Andereas Samudera menerjemahkan strategi kontekstualisasi dalam makalah berjudul "Power Evangelism." Kepada umat Islam, Andreas mengistilahkan penginjilan sebagai "Pertolongan Bagi Orang Muslim."

Menurutnya prinsip penginjilan kepada umat Islam adalah sbb:

"Dalam rangka menolong seorang Muslim memecahkan masalah mereka, sementara dengan adanya berbagai perbedaan keyakinan kedua kepercayaan ini, kami berusaha mencari hal-hal yang dapat disepakati bersama.

Kami menemukan bahwa walaupun secara teologis banyak perbedaan pandang antara faham Kristiani dan Islam, namun ternyata ada banyak juga titik-titik temu dari Al-Qur'an yang dapat dijadikan dasar iman untuk menolong mereka sehingga mereka boleh menerima pertolongan kesembuhan secara spiritual.

Dimulai dari titik-titik temu itulah, kuasa Tuhan boleh memasuki kehidupan mereka dan mempersiapkan hati mereka untuk menerima Tuhan Yesus. Di bawah ini beberapa ayat Al-Qur'an yang berguna untuk mengadakan pendekatan kepada mereka."

Setelah itu, Andreas mengutip ayat-ayat Al-Qur'an yang berbicara tentang Nabi Isa (Yesus).

Ayat-ayat itu dirakit sedemikian rupa, disambung dengan ayat-ayat Al-Qur'an yang lain dan ditutup dengan ayat-ayat Bibel, sehingga terkesan seolah-olah Al-Qur'an meneguhkan doktrin Kristen tentang ketuhanan Yesus.

Usai merakit ayat-ayat Al-Qur'an dan Bibel, Andreas menyimpulkan, "Otoritas di bumi dan di sorga.
Karena urapan pemberian Allah itu maka Isa bin Maryam telah menerima otoritas yang amat besar selama di bumi dan juga di surga.

Demikian pula para pengikutnya sampai pada hari kiamat...
Isa bin Maryam adalah Jalan Yang Lurus yang dicari semua orang.

Misi kontekstualisasi Kristen kepada umat Islam itu semakin menipu dengan idiom-idiom Islam yang dicaplok Kristen untuk memuluskan pemurtadan. Anehnya, istilah-istilah caplokan ini mereka tonjolkan ketika berhadapan dengan umat Islam, misalnya: Hari Raya Natal diarabkan
menjadi hari Maulud Nabi Isa, syahadat (diterjemahkan dari istilah teologi credo), allohummagfirli, shalat rabbaniyah, dakwah ukhuwah, shirathal mustaqiim, tauhid kristiani, dan masih banyak lagi.

Apapun namanya, yang namanya menipu jelas tidak terpuji.

Lebih-lebih jika tipuan itu dilakukan di wilayah religius.

Maka sangat aneh jika kontekstualisasi misi yang kental dengan tipuan dan akal bulus itu dimanfaatkan para penginjil untuk memasyhurkan nama Tuhan.

Lebih aneh lagi, ternyata dalam teologi Kristiani, berdusta (berbohong) untuk memuliakan Tuhan itu diizinkan Paulus:

"Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?" (Roma 3:7).

Memuliakan Tuhan dengan kedustaan adalah dua hal yang bertolakbelakang.
Kedustaan adalah tindakan dosa dan tercela. Apakah mungkin memuliakan Tuhan yang Maha Baik dengan perbuatan yang tidak baik?

3 Comments:

mata leo said...

kemarin hari saya berbincang dengan satu penginjil yang secara kebetulan bertemu di toko buku dengan dalih berbicara tentang buku yang saya baca... funny..terus terang saya ga kesel atau merasa gimana, tapi saya tahu kok perasaan ni orang maksa banget nanyanya.

kemudian sampai inti nya dia masuk, dengan pertanyaan balasan dari saya akan pertanyaan yang sama dia ucapkan ke saya 'mas kerjanya apa?'

dan dia jawab 'penginjil'. mulailah saya diceramahi tentang kasih tuhannya dan segala pengalaman spiritual nya mencari dan berhasil menemukan tuhan

catatan saya bahwa penginjil ini familiar dengan kata2 siratal mustakim, ayat2 keunggulan isa as di alquran, penyembelihan anak ibrahim (yang keturunannya adalah sang mesias. dalam hal ini adalah ishak as) dan kisah adam yang mewariskan dosa turunan.

sayangnya, kebetulan wawasannya agak kurang yang menyebabkan dirinya brubah strategi dari posisi ofensif menjadi total defensif. ini saya rasa bisa dimaklumi karena dia memilih orang berdasar ciri2 fisiknya. dia cari yang cupu kebetulan emang muka saya saat itu cupu di toko buku (baru bangun sore trus maen ke toko buku ampe malem). itu dugaan saya.

sebenernya secara umum saya simpulkan konsep keagamaan kristen kalah sexy/kalah menjual jika dibandingkan dengan yang saudara mudanya/islam punya, sehingga salesman nya harus menjual dengan agak kewalahan dan kejar setoran. good product sell itself, idiom ini sepertinya tidak terjadi di kristen. karena sebagai contoh konsep dosa turunan saat saya pertanyakan dengan mudah 'saya sih ga mau ikut tanggung jawab kalo bapak saya (adam) bikin dosa..kalo bisa milih bapak saya mending pilih bapak lain' sudah bikin dia hilang ide. secara logis keadilan universal semacam itu agak susah untuk dapat mereka cover.

jadi intinya, kenali diri kita dahulu secara mendalam (islam) untuk kemudian kita tahu apa yang kita miliki tanpa harus takut dan ngiri dengan apa yang orang lain miliki, karena kita tau persis milik kita lebih yahud.

Ade Supriyatna said...

Benar sekali,....apalgi sekarang sudah jamannya online....masya ALLOH....semakin gencar usaha2 penghancurannya! Saya menemukan banyak forum online yang terang2-an dibuat untuk menghujat,menghina,bahkan menjebak seseorang masuk ke dalam lingkungan mereka. Contohnya waktu gempar soal beredarnya VCD kesaksian dari Pdt.Muhammad Ali Makrus Attamimi dulu, yang mengaku mantan Islam dan memilih murtad. Nyatanya itu cuma akal-akalan penipuan tersembunyi.

BERIKUT TANGGAPAN SAYA DI TIAP FORUM:

Saudara-saudaraku muslim....saya berharap Anda semua berbesar hati dan memaafkan orang murtad tak tahu malu ini. Perhatikan semua yang dituturkannya, tidak berpedoman pada Al-Qur'an dalam memberikan keterangan. Coba amati dari awal sampai akhir, semuanya subjectif tanpa dasar keilmuan sama sekali dan hanya berdasarkan logika ngawur ala Israel.Jelas dia penjilat dan makelar agama. Kaum muslimin malah harus bersyukur bahwa orang ini dengan terang-terangan menunjukkan kebodohannya dan keluar dari agama Islam. Perhatikan sorot mata dan pancaran sinar wajahnya, redup dan penuh kebingungan yang teramat dalam. Perang bathin sedang melanda jiwanya akibat tidak kuatnya pendirian dan pendidikkan agama yang diterimanya. Do'akan saja semoga beliau lekas sembuh dari kebingungannya akan ilmu agama dan cara menelaahnya dengan cara yang benar pula. Dari arah isi ucapan-ucapannya saya yakin, suatu saat beliau ini tidak akan mengakui Tuhan manapun dan dari agama manapun, alias atheis. Karena semuanya diukur dari logika manusia yang jelas-jelas terbatas..

Untuk itu baik kepada siapapun, entah itu saudara-saudaraku kaum Muslimin, Nasrani, Hindu, Budha, waspadai orang ini. Jika saudara-saudara semua mengalami kebingungan seperti yang dialami orang ini, cari orang-orang/pemuka agama yang benar-benar mengerti dan tidak terkait dengan kepentingan apapun, apalagi yang terkait dengan MISI MEMINDAHKAN KEYAKINAN BERAGAMA DENGAN MENGHALALKAN SEGALA CARA dan MENGHARAPKAN IMBALAN seperti orang ini.

Jika Anda ingin berpindah agama, berpindahlah dengan cara yang benar tanpa perlu menjelek-jelekkan agama orang lain atau kepercayaan lama-nya tanpa dibekali dasar keilmuan yang memadai.

Sekedar informasi: saya mempelajari kitab agama Islam, Injil/Bible, Tripitaka, dan Weda. Serta menghubungi pemuka-pemuka agama yang direkomendasikan kepada saya untuk memberikan penjelasan. Tidak tanggung-tanggung, dari tiap-tiap agama yang saya pelajari saya menemui 10 pemuka agama terkenal yang direkomendasikan. Pilihan terakhir saya: Islam is my way. Apa saya lantas membuka front dan langsung menjelek-jelekkan agama lain yang tidak saya pilih? No way. Hanya orang yang bepandangan picik yang memilih menyudutkan keyakinan orang lain dengan dalih-dalih dan pernyataan-pernyataan tanpa dasar keilmuan yang jelas dan benar. PILIH DAN JALANI, gitu aja kok repot!

Terima kasih, salam perdamaian.
Semua pembuktian akan ada di akhirat nanti.

Anonim said...

Nice posting. Terima kasih