Ahlan Wa Sahlan

IQRO ( BACALAH )

Bacalah dirimu, Bacalah dari apa engkau dijadikan

Bacalah kejadian demi kejadian, Bacalah masa lalu, dan apa-apa yang ditinggalkan, Bacalah masa kini, dan apa-apa yang ada disekitarmu, Bacalah masa yang akan datang dan apa-apa yang akan dan tentu terjadinya.

Sungguh ALLOH telah memberimu berlimpah-limpah, dan tegak kanlah kebenaran itu dengan daya juang yang tak kenal payah dan henti ( sabar),......................

Selamat datang ana ucapkan kepada akhi dan ukhti, semoga apa yang tertulis di blog ini bermanfaat bagi kita dalam menSyiarkan Islam, serta sebagai media bagi kita untuk saling bersilaturahmi.

Kritik dan saran dapat di sampaikan ke is.majid@gmail.com

Wassalam

AddThis

Bookmark and Share

Kamis, 03 Desember 2009

Namanya Bairuha

Ya, namanya Bairuha’.

Begitu indah dan memikat hati. Sejuk, rimbun, luas, menghadap ke masjid Nabawi di Madinah. Dan yang menjadikannya lebih istimewa lagi adalah karena Rasulullah saw yang mulia pernah memasukinya kemudian meminum airnya yang sejuk.

Bairuha’ adalah nama sebuah kebun kurma yang sangat dicintai Abu Thalhah, pemiliknya.

Tapi tiba-tiba kebun yang begitu prestisius, berlokasi strategis dan bernilai sejarah tinggi itu menjadi tak bernilai sama sekali di mata Abu Thalhah ketika turun ayat berikut:

” Kalian sekali-kali tidak akan mencapai kebaikan, sebelum kalian menafkahkan dari sesuatu yang kalian cintai “(Q.S. Ali Imran: 92)

Demi mendengar ayat di atas, Abu Thalhah segera bergegas menuju Rasulullah kemudian dengan serta merta menyerahkan Bairuha’ beserta segala isinya kepada Rasulullah untuk dipergunakan sebagaimana apa yang diperintahkan Allah kepadanya.

Rasulullah yang bijak memuji tindakan Abu Thalhah ini tetapi menyarankan agar Bairuha’ dibagi saja kepada kerabat Abu Thalhah yang lebih membutuhkan.

Maka dibagikanlah kebun itu kepada kerabat dan sepupu-sepupu Abu Thalhah yang berjumlah sekitar 70 orang. Masing-masing mendapatkan 200 pohon kurma!

Kisah ini diriwayatkan oleh sahabat Anas ra dan dicantumkan oleh Imam Nawawi dalam Bab ke-37 Riyadhus Shalihin yang ditulisnya.

***

Mari belajar dari kisah di atas.

Mungkin kita telah sering berinfaq selama ini. Tapi sudahkah ia infaq yang berkualitas? Atau sekedar infaq “seikhlasnya” yang tidak begitu ikhlas?!

Mari ingat kembali apa yang biasa kita masukkan di kotak-kotak infaq masjid kala jum’atan tiba itu.

Adakah ia lembaran uang terbesar dalam dompet kita, atau sebaliknya? Yang paling baru cetakannya, atau yang paling kucel dan hampir robekkah ia?

Atau mungkin kita terlalu sayang dengan yang lembaran-lembaran itu hingga rela bersusah payah merogoh kantong celana yang paling dalam untuk menemukan kepingan uang logam terkecil bekas kerokan untuk diinfaqkan.

Tak bosan-bosan kita ulang semboyan ini dalam kepala kita, ” tak apa kecil, yang penting kan ikhlas…”

Ikhlas itu harus. Semboyannya juga tidak salah. Yang salah adalah jika mengidentikkan ikhlas dengan yang kecil. Menyamakan ikhlas dengan iseng. Menganggap ikhlas itu tidak harus dengan perjuangan.

Ikhlas adalah perjuangan untuk menjadi murni. Dalam bertindak, dalam berbuat, dalam berkata, dalam beramal, dalam berinfaq.

Ikhlas itu sangat dekat dengan pengorbanan. Dan bukan pengorbanan namanya jika tidak perih dirasa.

Mari kita lihat perbandingan berikut,

Pada suatu sholat jum’at seorang pengusaha dengan aset milyaran dan penghasilan bulanan ratusan juta memasukkan lembaran seratus ribuan ke dalam kotak infaq. Ikhlas lillaahi ta’ala.

Di belakangnya, seorang pedagang es cingcau dengan omzet duapuluh ribu perhari, dengan 3 anak dan satu istri, memasukkan selembar uang seribuan ke dalam kotak infaq. Ikhlas lillaahi ta’ala.

Sama-sama ikhlas.

Tapi apakah antum yakin nilai amal mereka juga sama di hadapan Allah yang Maha Kaya?! Tentu tidak sama!

Jika sama saja, tentu Umar tidak perlu menyesal karena tidak sanggup menyaingi Abu Bakar yang berinfaq dengan seluruh hartanya, sedangkan ia hanya mampu berinfaq dengan separuh harta.

Jika sahabat rasulullah yang tidak diragukan keikhlasannya seperti Abu Thalhah, Umar, Abu Bakar berlomba kuantitas dalam berinfaq, tidakkah kita yang belum jelas kualitas ikhlasnya ini lebih berhajat untuk berinfaq sebanyak-banyaknya demi meraih ridha-Nya?

Mari kita tengok ayat berikut ini,

" Bertaqwalah kamu kepada Allah sesuai kemampuanmu."(Q.S. At Taghabun: 16)

Mastatho’tum dalam ayat di atas, atau yang dalam bahasa indonesianya artinya ’semampunya’ sering dimaknai salah menjadi ’semaunya’ atau ’seenaknya’.

Dengan dalih ayat di atas, seorang aktivis dakwah yang sedang malas berangkat ngaji, memaklumi dirinya sendiri dan memutuskan tiduran di rumah daripada ngaji. Menurutnya, kan taqwa itu sesuai kemampuan…

Dengan dalih ayat di atas pula seorang kaya hanya berinfaq sekedarnya karena ” takut tidak ikhlas ” kalau berinfaq lebih. Dalam hatinya, ” Toh taqwa itu sesuai kemampuan…”

Tentu itu salah. Sesungguhnya bertaqwa sesuai kemampuan berarti kita dituntut beramal sekuat tenaga kita, sebanyak potensi yang dikaruniakan Allah kepada kita. Bukan semau kita.

Mereka yang berkemampuan A namun hanya mau melakukan B menanggung dosa selisih kualitas A dan B (dengan catatan A lebih baik dari B). Demikian menurut Ustadz Anis Matta dalam buku Model Manusia Muslim.

Maka marilah berlatih sejak saat ini untuk memberikan amal terbaik yang kita bisa dan berinfaq dengan yang terbaik dari yang kita cintai.

Jangan lupa, untuk memulai langkah besar perubahan itu dari lingkup terkecil kehidupan kita. Keluarga dan kerabat.


Jiwaku adalah jiwa yang selalu bergejolak.
Setiap ia mendapatkan sesuatu maka ia akan meminta yang lebih.
Kini, aku telah berada di puncak kekuasaan. Maka sekarang jiwaku menginginkan surga.
(Umar bin Abdul azis)


Muhammad Yudhy Herlambang

Sabtu, 21 Juni 2008

Yang Terlupakan Dari Keikhlasan

Ikhlas, suatu kata yang sudah tidak asing lagi di telinga kaum muslimin. Sebuah kata yang singkat namun sangat besar maknanya. Sebuah kata yang seandainya seorang muslim terhilang darinya, maka akan berakibat fatal bagi kehidupannya, baik kehidupan dunia terlebih lagi kehidupannya di akhirat kelak. Ya itulah dia, sebuah keikhlasan. Amal seorang hamba tidak akan diterima jika amal tersebut dilakukan tidak ikhlas karena Allah.

Allah berfirman yang artinya,

“Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya.” (Qs. Az Zumar: 2)

Keikhlasan merupakan syarat diterimanya suatu amal perbuatan di samping syarat lainnya yaitu mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata, “Perkataan dan perbuatan seorang hamba tidak akan bermanfaat kecuali dengan niat (ikhlas), dan tidaklah akan bermanfaat pula perkataan, perbuatan dan niat seorang hamba kecuali yang sesuai dengan sunnah (mengikuti Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam)”

Apa Itu Ikhlas ?

Banyak para ulama yang memulai kitab-kitab mereka dengan membahas permasalahan niat (dimana hal ini sangat erat kaitannya dengan keikhlasan), di antaranya Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya, Imam Al Maqdisi dalam kitab Umdatul Ahkam, Imam Nawawi dalam kitab Arbain An-Nawawi dan Riyadhus Shalihin-nya, Imam Al Baghowi dalam kitab Masobihis Sunnah serta ulama-ulama lainnya. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya keikhlasan tersebut. namun, apakah sesungguhnya makna dari ikhlas itu sendiri ?

Ukhti muslimah, yang dimaksud dengan keikhlasan adalah ketika engkau menjadikan niatmu dalam melakukan suatu amalan hanyalah karena Allah semata, engkau melakukannya bukan karena selain Allah, bukan karena riya (ingin dilihat manusia) ataupun sum’ah (ingin didengar manusia), bukan pula karena engkau ingin mendapatkan pujian serta kedudukan yang tinggi di antara manusia, dan juga bukan karena engkau tidak ingin dicela oleh manusia. Apabila engkau melakukan suatu amalan hanya karena Allah semata bukan karena kesemua hal tersebut, maka ketahuilah saudaraku, itu berarti engkau telah ikhlas. Fudhail bin Iyadh berkata, “Beramal karena manusia adalah syirik, meninggalkan amal karena manusia adalah riya.”

Dalam Hal Apa Aku Harus Ikhlas ?

Sebagian manusia menyangka bahwa yang namanya keikhlasan itu hanya ada dalam perkara-perkara ibadah semata seperti sholat, puasa, zakat, membaca al qur’an , haji dan amal-amal ibadah lainnya. Namun ukhti muslimah, ketahuilah bahwa keikhlasan harus ada pula dalam amalan-amalan yang berhubungan dengan muamalah. Ketika engkau tersenyum terhadap saudarimu, engkau harus ikhlas. Ketika engkau mengunjungi saudarimu, engkau harus ikhlas. Ketika engkau meminjamkan saudarimu barang yang dia butuhkan, engkau pun harus ikhlas. Tidaklah engkau lakukan itu semua kecuali semata-mata karena Allah, engkau tersenyum kepada saudarimu bukan karena agar dia berbuat baik kepadamu, tidak pula engkau pinjamkan atau membantu saudarimu agar kelak suatu saat nanti ketika engkau membutuhkan sesuatu maka engkau pun akan dibantu olehnya atau tidak pula karena engkau takut dikatakan sebagai orang yang pelit. Tidak wahai saudariku, jadikanlah semua amal tersebut karena Allah.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Ada seorang laki-laki yang mengunjungi saudaranya di kota lain, maka Allah mengutus malaikat di perjalanannya, ketika malaikat itu bertemu dengannya, malaikat itu bertanya, “Hendak ke mana engkau ?” maka dia pun berkata “Aku ingin mengunjungi saudaraku yang tinggal di kota ini.” Maka malaikat itu kembali bertanya “Apakah engkau memiliki suatu kepentingan yang menguntungkanmu dengannya ?” orang itu pun menjawab: “Tidak, hanya saja aku mengunjunginya karena aku mencintainya karena Allah, malaikat itu pun berkata “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk mengabarkan kepadamu bahwa sesungguhnya Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu itu karena-Nya.” (HR. Muslim)

Perhatikanlah hadits ini wahai ukhti, tidaklah orang ini mengunjungi saudaranya tersebut kecuali hanya karena Allah, maka sebagai balasannya, Allah pun mencintai orang tersebut. Tidakkah engkau ingin dicintai oleh Allah wahai ukhti ?

Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah engkau menafkahi keluargamu yang dengan perbuatan tersebut engkau mengharapkan wajah Allah, maka perbuatanmu itu akan diberi pahala oleh Allah, bahkan sampai sesuap makanan yang engkau letakkan di mulut istrimu.” (HR Bukhari Muslim)

Renungkanlah sabda beliau ini wahai ukhti, bahkan “hanya” dengan sesuap makanan yang seorang suami letakkan di mulut istrinya, apabila dilakukan ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberinya pahala. Bagaimana pula dengan pengabdianmu terhadap suamimu yang engkau lakukan ikhlas karena Allah ? bukankah itu semua akan mendapat ganjaran dan balasan pahala yang lebih besar? Sungguh merupakan suatu keberuntungan yang amat sangat besar seandainya kita dapat menghadirkan keikhlasan dalam seluruh gerak-gerik kita.

Berkahnya Sebuah Amal yang Kecil Karena Ikhlas

Ukhti muslimah yang semoga dicintai oleh Allah, sesungguhnya yang diwajibkan dalam amal perbuatan kita bukanlah banyaknya amal namun tanpa keikhlasan. Amal yang dinilai kecil di mata manusia, apabila kita melakukannya ikhlas karena Allah, maka Allah akan menerima dan melipat gandakan pahala dari amal perbuatan tersebut. Abdullah bin Mubarak berkata, “Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak pula amal yang besar menjadi kecil hanya karena niat.”

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Seorang laki-laki melihat dahan pohon di tengah jalan, ia berkata: Demi Allah aku akan singkirkan dahan pohon ini agar tidak mengganggu kaum muslimin, Maka ia pun masuk surga karenanya.” (HR. Muslim)

Lihatlah ukhti, betapa kecilnya amalan yang dia lakukan, namun hal itu sudah cukup bagi dia untuk masuk surga karenanya. Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Dahulu ada seekor anjing yang berputar-putar mengelilingi sumur, anjing tersebut hampir-hampir mati karena kehausan, kemudian hal tersebut dilihat oleh salah seorang pelacur dari bani israil, ia pun mengisi sepatunya dengan air dari sumur dan memberikan minum kepada anjing tersebut, maka Allah pun mengampuni dosanya.” (HR Bukhari Muslim)

Subhanallah, seorang pelacur diampuni dosanya oleh Allah hanya karena memberi minum seekor anjing, betapa remeh perbuatannya di mata manusia, namun dengan hal itu Allah mengampuni dosa-dosanya. Maka bagaimanakah pula apabila seandainya yang dia tolong adalah seorang muslim ? Dan sebaliknya, wahai ukhti, amal perbuatan yang besar nilainya, seandainya dilakukan tidak ikhlas, maka hal itu tidak akan berfaedah baginya. Dalam sebuah hadits dari Abu Umamah Al Bahili, dia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang berperang untuk mendapatkan pahala dan agar dia disebut-sebut oleh orang lain?” maka Rasulullah pun menjawab: “Dia tidak mendapatkan apa-apa.” Orang itu pun mengulangi pertanyaannya tiga kali, Rasulullah pun menjawab: “Dia tidak mendapatkan apa-apa.” Kemudian beliau berkata: “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amalan kecuali apabila amalan itu dilakukan ikhlas karenanya.” (Hadits Shahih Riwayat Abu Daud dan Nasai). Dalam hadits ini dijelaskan bahwa seseorang yang dia berjihad, suatu amalan yang sangat besar nilainya, namun dia tidak ikhlas dalam amal perbuatannya tersebut, maka dia pun tidak mendapatkan balasan apa-apa.

Buah dari Ikhlas

Untuk mengakhiri pembahasan yang singkat ini, maka kami akan membawakan beberapa buah yang akan didapatkan oleh orang yang ikhlas. Seseorang yang telah beramal ikhlas karena Allah (di samping amal tersebut harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam), maka keikhlasannya tersebut akan mampu mencegah setan untuk menguasai dan menyesatkannya. Allah berfirman tentang perkataan Iblis laknatullah alaihi yang artinya: Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.” (Qs. Shod: 82-83). Buah lain yang akan didapatkan oleh orang yang ikhlas adalah orang tersebut akan Allah jaga dari perbuatan maksiat dan kejelekan, sebagaimana Allah berfirman tentang Nabi Yusuf yang artinya “Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas. “ ( Qs. Yusuf : 24). Pada ayat ini Allah mengisahkan tentang penjagaan Allah terhadap Nabi Yusuf sehingga beliau terhindar dari perbuatan keji, padahal faktor-faktor yang mendorong beliau untuk melakukan perbuatan tersebut sangatlah kuat. Akan tetapi karena Nabi Yusuf termasuk orang-orang yang ikhlas, maka Allah pun menjaganya dari perbuatan maksiat. Oleh karena itu wahai ukhti, apabila kita sering dan berulang kali terjatuh dalam perbuatan kemaksiatan, ketahuilah sesungguhnya hal tersebut diakibatkan minim atau bahkan tidak adanya keikhlasan di dalam diri kita, maka introspeksi diri dan perbaikilah niat kita selama ini, semoga Allah menjaga kita dari segala kemaksiatan dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang ikhlas. Amin ya Rabbal alamin.

***

Penulis: Abu ‘Uzair Boris Tanesia
Muroja’ah: Ust. Ahmad Daniel, Lc.

Senin, 10 Desember 2007

Ikhlas dan Qurban

Kisah ini buat kita Renungkan dan tentunya dapat kita terapkan dalam kehidupan kita, setidaknya buat kita bercermin akan sikap yang telah di perbuat oleh Yu Timah, yang begitu mulianya…………

Kisah " YU TIMAH "

Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami,

Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang kini sudah berakhir, empat kali menerima SLT selama 1 tahun jumlah uang yang diterima Yu Timah dr pemerintah sebesar Rp 1,2 juta.

Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya, Maka rumahnya berlantai
tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri.

Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah,
Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun.

Jadilah Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara.

Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di
Jakarta.

Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga, dia kembali ke kampung kami.

Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta, Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu.

Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan
nasi bungkus, Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa.

Tapi Yu Timah bertahan,………………..

Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya.

Setelah emaknya meninggal Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia
biayai anak itu hingga tamat SD. Tapi ini zaman apa. Anak itu harus cari makan.

Maka dia tersedot arus perdagangan pembantu rumah tangga dan lagi-lagi terdampar di Jakarta.

Sudah empat tahun terakhir ini Yu Timah kembali hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan nasi bungkus, Untung di kampung kami ada pesantren kecil.

Para santrinya adalah anak-anak petani yang biasa makan nasi seperti yang dijual Yu Timah.

Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau
bicara soal tabungan, Inilah hebatnya.

Semiskin itu Yu Timah msh bisa menabung di bank perkreditan rakyat syariah di mana saya ikut jadi pengurus.

Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia
orang miskin dan buta huruf, Dia menabung Rp 5.000 atau Rp 10 ribu setiap bulan.

Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu.

Dan sejak itu saya melihat Yu Timah memakai cincin emas. Yah, emas.

Untuk orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalan mengangkat harga diri.

Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.

Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya.

Malah maunya bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah.

''Pak, saya mau mengambil tabungan,'' kata Yu Timah dengan suaranya yang
kecil.

''O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah
tutup. Bagaimana bila Senin?''

''Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.''

''Mau ambil berapa?'' tanya saya.

''Enam ratus ribu, Pak.''

''Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?''

Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu.

''
Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan,

cukup untuk beli satu kambing.''

Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi
kata-katanya karena saya masih diam.

Karena lama tidak memberikan tanggapan, mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya, Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli kambing kurban.

''Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus
ribu. Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban.

Yu Timah bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada.

Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?''

''Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama
Ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi daging kurban.''

''Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita."

Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta
diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang.

Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri.

"Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati, lalu
meng-internalisasi ajaran kurban yang ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim ?


Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi
sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya?"

Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak orangnya.

Mungkin saya juga begitu.

Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan
pernah naik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban.

Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kaubelikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kamu belikan kambing kurban.

Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati daging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga.

Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji.