Ahlan Wa Sahlan

IQRO ( BACALAH )

Bacalah dirimu, Bacalah dari apa engkau dijadikan

Bacalah kejadian demi kejadian, Bacalah masa lalu, dan apa-apa yang ditinggalkan, Bacalah masa kini, dan apa-apa yang ada disekitarmu, Bacalah masa yang akan datang dan apa-apa yang akan dan tentu terjadinya.

Sungguh ALLOH telah memberimu berlimpah-limpah, dan tegak kanlah kebenaran itu dengan daya juang yang tak kenal payah dan henti ( sabar),......................

Selamat datang ana ucapkan kepada akhi dan ukhti, semoga apa yang tertulis di blog ini bermanfaat bagi kita dalam menSyiarkan Islam, serta sebagai media bagi kita untuk saling bersilaturahmi.

Kritik dan saran dapat di sampaikan ke is.majid@gmail.com

Wassalam

AddThis

Bookmark and Share

Jumat, 07 Agustus 2009

Aku Meninggalkan Suami Karena Ia Memintaku Meninggalkan Islam

Jika ada sebagian di antara wanita muslimah yang rela meninggalkan islam yang dianutnya demi cinta, ekonomi, harta, kekayaan, atau urusan dunia lainnya, maka dalam kisah nyata kali ini tidaklah demikian. Seorang wanita Jerman yang telah mendapat hidayah islam justru mengorbankan suaminya demi mempertahankan hidayah yang telah diraihnya! Sungguh hidayah itu adalah sangat mahal nilainya bagi orang-orang yang mau merenunginya dan mensyukurinya.Inilah dia kisahnya :

“Saya sampai di Saudi, sedangkan di pikiranku ada berbagai hal tentangnya. Sebelumnya saya sudah yakin bahwa akan terjadi perubahan besar pada diriku. Saya mulai memperhatikan hal-hal aneh di masyarakat yang ada di sekitarku. Ketika waktu shalat tiba, semua orang meninggalkan apa saja yang mereka kerjakan dan berdiri dishaf-shaf secara teratur (untuk melaksanakan shalat), mereka diliputi oleh kebahagiaan dan ketenangan.

Saya memperhatikan berbagai macam pergaulan antara anggota masyarakat, di pikiranku berkecamuk dan bertumpuk berbagai pertanyaan. Pada setiap jawaban yang saya dapatkan, saya merasakan adanya denyutan baru di dalam hati yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Saya membandingkan antara tatanan kehidupan di Jerman dan tatanan ke hidupan yang ada di sini. Di Jerman, kami menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tak bermanfaat, sementara disini semua orang menghabiskan waktunya untuk bekerja dan beribadah.”

Selanjutnya perempuan ini menambahkan, “Insinyur Subhi Tiraji dan istrinya telah menerangkan Islam kepadaku secara terperinci. Mereka juga telah menjelaskan kepadaku perkara-perkara yang ghaib dan pemahaman-pemahaman yang salah supaya saya masuk Islam dengan penuh kerelaan. Saya menamakan diri dengan Hana.

Saya mengirim surat kepada suamiku di Jerman untuk memberitahukan hal ini dan menjelaskan kepadanya tentang kelebihan-kelebihan agama Islam, serta menjelaskan bahwa Islamlah agama yang benar. Akan tetapi sayang, suamiku malah memintaku untuk segera pulang dan meninggalkan Islam. Saya menolak permintaannya dan mengorbankan dirinya. Saya meminta untuk di talak dan saya pun mendapatkan hasilnya. Allah memberiku seorang suami yang shalih, berkebangsaan Amerika yang berasal dari Mesir.”

Kemudian Hana menceritakan kehidupan barunya, “Setiap minggu kami pergi ke Mekkah atau Madinah al-Munawwarah untuk menghabiskan waktu-waktu yang indah di berbagai tempat suci dan mendengarkan berbagai kaset, supaya dengan mudah kami mendapatkan pemahaman yang benar tentang Islam dengan lebih dalam dan lebih sempurna.”1

Di kutip dari :

Akhirnya Mereka Memilih Islam Kesaksian Para Muallaf, Khalid Abu SHalih, hal: 146-147, Darul Haq Jakarta, 2006.

sumber : http://jilbab.or.id

Jumat, 29 Mei 2009

MEMBALAS KE BURUKAN DENGAN KEBAIKAN

Membaca kehidupan orang-orang sholeh sungguh menakjubkan. Terlebih lagi jika mereka adalah generasi terbaik umat ini. Kehidupan mereka bertabur mutiara hikmah dan pelajaran berharga bagi kehidupan generasi sesudahnya.

Kitab-kitab sejarah dan sunnah telah menorehkan lembaran-lembaran emas kehidupan mereka. Beruntunglah orang-orang yang meneladani mereka dengan baik.


( وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ
وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّه
عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا
الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ)
(التوبة:100)

Artinya, “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”.

Pertemuan kali ini, kita bersama sebuah kisah menakjubkan yang dinukilkan kepada kita oleh “kutubussunnah”. Kisah yang terjadi antara dua orang sahabat mulia; Abu Bakr Ash-Shiddiq rodhiyallahu ‘anhu. Manusia paling afdhol setelah para rasul dan nabi. Kholifah Ar-Rosyid yang pertama semoga Allah meridhoinya. Dan khodim Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama. Yang pernah memintanya untuk menemaninya di surga. Lantas Nabi berkata kepadanya, “Kalau begitu aku akan mendo’akanmu, tetapi bantulah aku atas dirimu dengan memperbanyak sujud”. Dialah Robi’ah bin Ka’ab Al-Aslamy rodhiyallahu ‘anhu.

Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim di Mustadroknya, ia berkata, “Ini adalah hadits shohih menurut syarat Muslim dan keduanya tidak mengeluarkannya”. Dari Robi’ah bin Ka’ab Al-Aslamy rodhiyallahu ‘anhu ia menuturkan, Rasulullah shollahu ‘alaihi wasallama memberiku sebidang tanah, dan ia juga memberi Abu Bakar sebidang tanah. Lalu kami berselisih pada sepokok kurma. Ia (Robi’ah) berkata, “Maka datanglah dunia”.

Maka Abu Bakar berkata, “Ini termasuk dalam batas tanahku”. Aku pun menyanggah, “Tidak .. akan tetapi ini termasuk dalam batas tanahku”.

Lantas Abu Bakar melontarkan kepadaku kata-kata yang tidak aku sukai. Dan dia menyesali kata-katanya itu. Maka ia berkata kepadaku, “Hai Robi’ah, ucapkanlah kepadaku seperti apa yang telah aku katakan kepadamu sehingga menjadi qishosh”. Aku menjawab, “Tidak, demi Allah aku tidak akan mengatakan kepadamu kecuali yang baik”. Abu Bakar kembali berkata, “Demi Allah, engkau harus mengucapkan kepadaku seperti ucapanku kepadamu sehingga menjadi qishosh atau aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama”.

Aku berkata, “Tidak, aku tidak akan mengatakan kepadamu kecuali yang baik”. Maka Abu Bakar tidak menerima pembagian tanah tersebut, dan ia mendatangi Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama. Sementara aku(Robi’ah) mengikuti di belakangnya.

Sekelompok orang dari suku Aslam (suku Robi’ah) berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Bakar. Dia yang telah melontarkan kata-kata itu kepadamu, kenapa dia yang mengadukanmu kepada Rasulullah?”.

Aku berkata, “Tahukah kalian siapa ini? Ini adalah Abu Bakar .. teman Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama di dalam gua. Orang yang dituakan oleh kaum muslimin. Jangan sampai ia menoleh dan melihat kalian membelaku, sehingga dia marah lantas Rasulullah ikut marah karena kemarahanya, maka Allah akan marah pula karena kemarahan keduanya. Jika sampai itu terjadi celakalah Robi’ah. Pulanglah kalian!!”. Robi’ah bergegas menyusul Abu Bakar.

Sesampai Abu Bakar di hadapan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama, ia menceritakan apa yang terjadi antara dia dan Robi’ah.

Rasulullah berkata kepada Robi’ah, “Hai Robi’ah, ada apa antara kamu dengan Ash-Shiddiq?”.

Robi’ah menceritakan apa yang terjadi dan apa yang diucapkan oleh Abu Bakar kepadanya. Dan keengganannya membalas Abu Bakar dengan ucapan yang sama.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama berkata kepadanya, “Baiklah, jangan katakan kepadanya seperti yang dikatakannya kepadamu, akan tetapi katakanlah ‘Semoga Allah mengampunimu hai Abu Bakar”.

Maka Abu Bakar pergi meninggalkan majelis tersebut sambil menangis …[1]

Subhanallah!

Kisah menakjubkan yang dinukilkah oleh kutubussunah kepada kita. Di dalamnya terkandung butir-butir pelajaran berharga bagi setiap muslim yang ingin meneladani generasi emas umat ini.

Entah dari mana kita mulai memetik pelajaran kisah ini. Apakah dari Rasulullah shollallahu yang adil dan bijaksana; bagaimana beliau mendengarkan masalah ini dari kedua belah pihak. Dan bagaimana beliau akhirnya membuat keduanya melewati polemik ini dengan baik.

Ataukah kita mulai dari jiwa besar Ash-Shiddiq rodhiyallahu ‘anhu.Ataukah kita akan membicarakan akhlak Robi’ah dan penghormatannya terhadap Ash-Shiddiq??Akar kisah ini adalah apa yang terjadi di antara dua orang sahabat yang mulia ini, dan pandangan mereka yang berbeda tentang sebatang korma yang menjadi pemicu perselisihan kecil antara keduanya.

Dalam kisah ini, Robi’ah menuturkan penyebab terjadinya perselisihan ini, ia mengatakan (Dan datanglah dunia …) maksudnya sebab utama adalah karena perhatian kepada dunia dan perhiasannya. Seolah-olah Robi’ah rodhiyallahu ‘anhu mengatakan kepada kita bahwa dunia dan perhiasaannya adalah penyebab banyak perselisihan di antara sesama muslim. Seolah-olah ia mengatakan kepada kita, kenapa harus berselisih, bertengkar, dan saling memutus hubungan persaudaraan hanya karena harta, tanah atau warisan dan urusan dunia lainnya?? Sampai kapan dunia ini menyibukkan kita dari tujuan dan cita-cita yang mulia?

Dengarkan firman Robb kita Subhanahu wa Ta’ala,

(وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ
أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ
فَأَصْبَحَ هَشِيماً تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ
شَيْءٍ مُقْتَدِراً)

Artinya, “Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Al-Kahfi : 45)

kemudian cobalah ulang lagi membaca dan merenungi penuturan Robi’ah (Lantas Abu Bakar melontarkan kepadaku kata-kata yang tidak aku sukai.

Dan dia menyesali kata-katanya itu). Tidak diceritakan apa kalimat yang telah dilontarkan Abu Bakar kepada Robi’ah. Kita yakin tentu kalimat tersebut tak lebih dari sekedar ketidak sengajaan yang segara di sadari Abu Bakar dengan penyesalannya atas apa yang telah ia ucapkan. Ini merupakan ‘ibroh yang luar biasa. Seorang yang berjiwa besar sekalipun ia dihormati jika keliru segera kembali kepada yang benar. Kemudian tidak adanya nukilan ucapan Abu Bakar tersebut mengisyaratkan kepada kita bahwasanya Robi’ah sama sekali tidak memendam dendam. Ia ingin ucapan Abu Bakar tersebut dilupakan dan tidak diingat …
Abu Bakar rodhiyallahu ‘anhu meminta Robi’ah rodhiyallahu ‘anhu membalas ucapannya sebagai qishosh atas perbuatannya. Kedudukannya di sisi Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama tidak membuatnya menghinakan dan merendahkan seseorangpun dari kaum muslimin bahkan dia tidak ingin menyakiti seseorangpun sekalipun itu hanya dengan ucapan sepele.

Dengan sikap yang mulia ini Ash-Shiddiq mengajarkan kepada kita sifat adil, tawadhu dan tidak sombong.

Di sisi lain juga tergambar jiwa besar Robi’ah. Ia tidak ingin membalas kalimat yang tidak disukainya dengan kalimat yang semisal. Bahkan ia menegaskan (Tidak ..demi Allah aku tidak akan katakan kepadamu kecuali yang baik). Ini peringatan bagi kita agar kita tidak membalas keburukan dengan kebaikan. Jangan biarkan syetan mendapatkan celah untuk merusak mu’amalahmu bersama saudara-saudara dan sahabat-sahabatmu. Jangan ucapkan dengan lisanmu kecuali yang ucapan yang baik.

“Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan”. (Al-Mukminun : 96)

Ini juga menjadi ‘ibroh yang berharga bagi orang-orang yang menjadikan lisannya laksana pedang untuk mencaci-maki, mencela, mengolok-olok, memakan bangkai saudaranya (ghibah), atau berdusta.

Jangan .. jangan lakukan itu saudaraku!!

Kemudian ia memberikan kepada kita pelajaran lain yaitu ’sabar’. Ia tidak membalas ucapan Abu Bakar .. sama sekali tidak.


Bukankah ini pelajaran bagi kita semua, agar kita mengendalikan nafsu dan emosi kita. Sangat disayangkan sebagian orang membalas satu kata dengan dua kali lipat atau bahkan berlebih-lebihan. Masalah sepele saja memantik emosinya, sehingga menggelegak lalu mencela, memaki dan melaknat. Lupakah ia wasiat Qudwah-nya shollallahu ‘alaihi wa sallama ketika mewasiatkan salah seorang sahabatnya, “Jangan marah”.[2]

Kemudian Abu Bakar yang menyesali perkataannya, ketika Robi’ah tidak mau membalasnya ia pergi menemui Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama untuk meminta petunjuk dalam masalahnya itu. Ini mengandung faedah yang agung yaitu meminta bantuan orang yang lain yang bisa dipercaya dan amanah untuk menjadi penengah dan membantu mendamaikan.

Ketika Robi’ah mengikutinya. Di jalan beberapa orang kaum Robi’ah berusaha menghalanginya mengikuti Abu Bakar. Seolah-olah mereka mengatakan kepadanya (bukankah Abu Bakar yang salah kepadamu, dan engkau yang benar? Kenapa engkau mengikutinya?) dengarkan jawaban yang sangat dalam maknanya dari Robi’ah (Tahukah kalian siapa ini? Ini adalah Abu Bakar, ini adalah teman (Rasulullah) di dalam gua .. orang yang dituakan oleh kaum muslimin!! Jangan sampai ia melihat kalian membelaku, lalu dia marah, lantas Rasulullah marah karena kemarahannya maka Allah pun marah karena kemarahan keduanya sehingga binasalah Robi’ah).

Sungguh akhlak yang tinggi baik perkataan maupun perbuatannya. Budi pekerti nan luhur dalam bermu’amalah, menghormati dan memuliakan.

Ini adalah pelajaran berharga bagi kita semua bagaimana memposisikan orang lain sesuai dengan kedudukannya. Semoga Allah meridhoimu hai Robi’ah ketika engkau mengetahui keutamaan orang yang memiliki kedudukan. Semoga Allah meridhoimu ketika engkau menghormati Abu Bakar dan memuliakannya. Semoga Allah meridoimu ketika engkau menimbang permasalahaan dengan timbangan syara’.

Lihatlah …Robi’ah mengetahui kedudukan Abu Bakar di sisi Rasulullah, maka dia takut kemarahannya karena dia khawatir itu akan menyebabkan Rasulullah marah lalu menyebabkan Allah juga marah. Ini yang tidak terpikirkan oleh kaumnya yang menimbang masalah itu dengan emosi mereka semata. Dalam masalah ini pelajaran berharga bagi umat, bahwasanya emosi dan perasaan yang tidak dikontrol dengan batasan-batasan syara’ menyebabkan hasil-hasil yang tidak terpuji.

Lihatlah wahai saudaraku ..apa yang terjadi ditengah umat islam.
Munculnya pemikiran-pemikiran dan perbuatan-perbuatan yang digerakkan oleh emosi dan semangat yang tidak mengikuti rambu-rambu syara’ ..sehingga menimbulkan kerusakan di muka bumi ..meledakkan, menghancurkan dan mengkafirkan.

Saudaraku kaum muslimin … ilmu syar’I yang dibangun di atas pondasi yang shohih adalah satu-satunya jalan menggapai keselamatan umat dan kemenangannya. Kita adalah umat yang memiliki manhaj dan azas yang jelas.
Pilar-pilarnya jelas ..takkan ada yang menggoyahkan baik hawa yang diikuti atau emosi yg tak terkendali atau semangat yg kosong dari ilmu syar’I, selama kita berpegang teguh dengan dasar-dasar yang shohih
tadi.
Inilah yang terjadi di antara dua orang sahabat sebelum keduanya sampai kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama. Adapun yang terjadi dihadapan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama. Keduanya bertemu dihadapan Rasulullah. Dan beliau mendengarkan dari keduanya dengan seksama. Beginilah Rasulullah dengan para sahabatnya rodhiyallahu anhum; mendengarkan mereka, duduk bersama mereka. Mereka meminta pendapatnya lalu beliau memberikan petunjuk dan saran. Mereka bertanya beliau menjawab.

Dalam kisah ini, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama mendengarkan penuturan keduanya. Dia tidak hanya mendengarkan sepihak.
Ini bentuk keadilan beliau. Setelah beliau mendengar keduanya dan setelah jelas semua permasalahan, ia menunjukkan kepada Robi’ah yang lebih baik dari membalas ucapan Abu Bakar, dan beliau mendukungnya untuk tidak membalas bahkan beliau berkata kepadanya, “Katakan kepadanya (semoga Allah mengampunimu hai Abu Bakar)”.

Robi’ah pun mengucapkannya ..namun jiwa besar Abu Bakar rodhiyallahu ‘anhu yang takut kepada Allah tidak sanggup menerimanya sehingga air matanya mendahului kata-katanya. Dan ia pun pergi dengan menangis semoga Allah meridhoinya.

Ya Allah .. Alangkah indah dan mengagumkannya kisah ini, penuh dengan akhlak yang mulia, budi pekerti nan tinggi, saling memaafkan dan berlapang dada. Allah Ta’ala berfirman,

فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ (الشورى: من الآية40(
“Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim”.

Semoga Allah memberikan kekuatan dan keteguhan kepada kita untuk meneladani Salafush Sholeh .. Amin.

[1]
Kisah ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad (4/58-59) dan Ath-Thobroni
di Al-Mu’jamul Kabir (5/52-530 dan Ibnu Asakir di At-Tarikh (9/583) dan
isnadnya dihasankan oleh Syeikh Al-Albany di As-Silsilah Ash-Shohihah
(no. 3145).
[2] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu.
sumber : http://abuzubair.net/category/jadilah-seperti-mereka/

Kamis, 04 Desember 2008

Kisah Dibalik Tragedi Tsunami Banda Aceh Tahun 2004

Ada sebuah keluarga di Lhok Nga - Aceh, yang selalu menanamkan ajaran Islam dalam kesehariannya. Mereka adalah keluarga Umi Salamah dan Abi Usman. Mereka memiliki 4 bidadari yang solehah: Alisa Fatimah, (si kembar) Alisa Zahra & Alisa Aisyah, dan si bungsu Alisa Delisa.

Setiap subuh, Umi Salamah selalu mengajak bidadari-bidadariny a sholat jama'ah. Karena Abi Usman bekerja sebagai pelaut di salah satu kapal tanker perusahaan minyak asing - Arun yang pulangnya 3 bulan sekali.
Awalnya Delisa susah sekali dibangunkan untuk sholat subuh. Tapi lama-lama ia bisa bangun lebih dulu ketimbang Aisyah.
Setiap sholat jama'ah, Aisyah mendapat tugas membaca bacaan sholat keras-keras agar Delisa yang ada di sampingnya bisa mengikuti bacaan sholat itu.

Umi Salamah mempunyai kebiasaan memberikan hadiah sebuah kalung emas kepada anak-anaknya yang bisa menghafal bacaan sholat dengan sempurna. Begitu juga dengan Delisa yang sedang berusaha untuk menghafal bacaan sholat agar sempurna. Agar bisa sholat dengan khusyuk. Delisa berusaha keras agar bisa menghafalnya dengan baik. Selain itu Abi Usman pun berjanji akan membelikan Delisa sepeda jika ia bisa menghafal bacaan sholat dengan sempurna.

Sebelum Delisa hafal bacaan sholat itu, Umi Salamah sudah membelikan seuntai kalung emas dengan gantungan huruf D untuk Delisa. Delisa senang sekali dengan kalung itu. Semangatnya semakin menggebu-gebu. Tapi entah mengapa, Delisa tak pernah bisa menghafal bacaan sholat dengan sempurna.

26 Desember 2004

Delisa bangun dengan semangat. Sholat subuh dengan semangat. Bacaannya nyaris sempurna, kecuali sujud. Bukannya tertukar tapi tiba-tiba Delisa lupa bacaan sujudnya. Empat kali sujud, empat kali Delisa lupa. Delisa mengabaikan fakta itu. Toh nanti pas di sekolah ia punya waktu banyak untuk mengingatnya. Umi ikut mengantar Delisa. Hari itu sekolah ramai oleh ibu-ibu. Satu persatu anak maju dan tiba giliran Alisa Delisa.
Delisa maju, Delisa akan khusuk. Ia ingat dengan cerita Ustad Rahman tentang bagaimana khusuknya sholat Rasul dan sahabat-sahabatnya.
"Kalo orang yang khusuk pikirannya selalu fokus. Pikirannya satu." Nah jadi kalian sholat harus khusuk. Andaikata ada suara ribut di sekitar, tetap khusuk.

Delisa pelan menyebut "ta'awudz". Sedikit gemetar membaca "bismillah". Mengangkat tangannya yang sedikit bergetar meski suara dan hatinya pelan-pelan mulai mantap. "Allahu Akbar".

Seratus tiga puluh kilometer dari Lhok Nga. Persis ketika Delisa usai bertakbiratul ihram, persis ucapan itu hilang dari mulut Delisa. Persis di tengah lautan luas yang beriak tenang. LANTAI LAUT RETAK SEKETIKA.
Dasar bumi terban seketika! Merekah panjang ratusan kilometer. Menggentarkan melihatnya. Bumi menggeliat. Tarian kematian mencuat. Mengirimkan pertanda kelam menakutkan.

Gempa menjalar dengan kekuatan dahsyat. Banda Aceh rebah jimpa. Nias lebur seketika. Lhok Nga menyusul. Tepat ketika di ujung kalimat Delisa,tepat ketika Delisa mengucapkan kata "wa-ma-ma-ti" , lantai sekolah bergetar hebat. Genteng sekolah berjatuhan. Papan tulis lepas, berdebam menghajar lantai. Tepat ketika Delisa bisa melewati ujian pertama kebolak-baliknya, Lhok Nga bergetar terbolak-balik.

Gelas tempat meletakkan bunga segar di atas meja bu guru Nur jatuh. Pecah berserakan di lantai, satu beling menggores lengan Delisa.
Menembus bajunya. Delisa mengaduh. Umi dan ibu-ibu berteriak di luar. Anak-anak berhamburan berlarian. Berebutan keluar dari daun pintu. Situasi menjadi panik. Kacau balau. "GEMPAR"!

"Innashalati, wanusuki, wa-ma... wa-ma... wa-ma-yah-ya, wa-ma-ma-ti. .."

Delisa gemetar mengulang bacaannya yang tergantung tadi. Ya Allah, Delisa takut... Delisa gentar sekali. Apalagi lengannya berdarah membasahi baju putihnya. Menyemburat merah. Tapi bukankah kata Ustadz Rahman, sahabat Rasul bahkan tetap tak bergerak saat sholat ketika punggungnya digigit kalajengking?

Delisa ingin untuk pertama kalinya ia sholat, untuk pertama kalinya ia bisa membaca bacaan sholat dengan sempurna, Delisa ingin seperti sahabat Rasul. Delisa ingin khusuk, ya Allah...

Gelombang itu menyentuh tembok sekolah. Ujung air menghantam tembok sekolah. Tembok itu rekah seketika. Ibu Guru Nur berteriak panik. Umi yang berdiri di depan pintu kelas menunggui Delisa, berteriak keras ...
SUBHANALLAH! Delisa sama sekali tidak mempedulikan apa yang terjadi. Delisa ingin khusuk.. Tubuh Delisa terpelanting. Gelombang tsunami sempurna sudah membungkusnya. . Delisa megap-megap. Gelombang tsunami tanpa mengerti apa yang diinginkan Delisa, membanting tubuhnya keras-keras. Kepalanya siap menghujam tembok sekolah yang masih bersisa.
Delisa terus memaksakan diri, membaca takbir setelah "i'tidal..." "Al-la-hu-ak- bar..." Delisa harus terus membacanya! Delisa tidak peduli tembok yang siap menghancurkan kepalanya.

Tepat Delisa mengatakan takbir sebelum sujud itu, tepat sebelum kepalanya menghantam tembok itu, selaksa cahaya melesat dari "Arasy Allah." Tembok itu berguguran sebelum sedikit pun menyentuh kepala mungil Delisa yang terbungkus kerudung biru. Air keruh mulai masuk, menyergap Kerongkongannya. Delisa terbatuk. Badannya terus terseret.
Tubuh Delisa terlempar kesana kemari. Kaki kanannya menghantam pagar besi sekolah. Meremukkan tulang belulang betis kanannya. Delisa sudah tak bisa menjerit lagi. Ia sudah sempurna pingsan. Mulutnya minum berliter air keruh.
Tangannya juga terantuk batang kelapa yang terseret bersamanya. Sikunya patah. Mukanya penuh baret luka dimana-mana. Dua giginya patah. Darah menyembur dari mulutnya..

Saat tubuh mereka berdua mulai perlahan tenggelam, Ibu Guru Nur melepas kerudung robeknya. Mengikat tubuh Delisa yang pingsan di atas papan sekencang yang ia bisa dengan kerudung itu. Lantas sambil menghela nafas penuh arti, melepaskan papan itu dari tangannya pelan-pelan, sebilah papan dengan Delisa yang terikat kencang diatasnya.

"Kau harus menyelesaikan hafalan itu, sayang...!" Ibu Guru Nur berbisik sendu. Menatap sejuta makna. Matanya meredup. Tenaganya sudah habis. Ibu Guru Nur bersiap menjemput syahid.

Minggu, 2 Januari 2005

Dua minggu tubuh Delisa yang penuh luka terdampar tak berdaya. Tubuhnya tersangkut di semak belukar. Di sebelahnya terbujur mayat Nur yang pucat tak berdarah. Smith, seorang prajurit marinir AS berhasil menemukan Delisa yang tergantung di semak belukar, tubuhnya dipenuhi bunga-bunga putih. Tubuhnya bercahaya, berkemilau, menakjubkan! Delisa segera dibawa ke Kapal Induk John F Kennedy. Delisa dioperasi, kaki kanannya diamputasi. Siku tangan kanannya di gips. Luka-luka kecil di kepalanya dijahit. Muka lebamnya dibalsem tebal-tebal. Lebih dari seratus baret di sekujur tubuhnya.

Aisyah dan Zahra, mayatnya ditemukan sedang berpelukan. Mayat Fatimah juga sudah ditemukan. Hanya Umi Salamah yang mayatnya belum ditemukan.
Abi Usman hanya memiliki seorang bidadari yang masih belum sadar dari pingsan. Prajurit Smith memutuskan untuk menjadi mu'alaf setelah melihat kejadian yang menakjubkan pada Delisa. Ia mengganti namanya menjadi Salam.

Tiga minggu setelah Delisa dirawat di Kapal induk, akhirnya ia diijinkan pulang. Delisa dan Abi Usman kembali ke Lhok Nga. Mereka tinggal bersama para korban lainnya di tenda-tenda pengungsian. Hari-hari diliputi duka. Tapi duka itu tak mungkin didiamkan berkepanjangan. Abi Usman dan Delisa kembali ke rumahnya yang dibangun kembali dengan sangat sederhana.

Delisa kembali bermain bola, Delisa kembali mengaji, Delisa dan anak-anak korban tsunami lainnya, kembali sekolah dengan peralatan seadanya. Delisa kembali mencoba menghafal bacaan sholat dengan sempurna. Ia sama sekali sulit menghafalnya. "Orang-orang yang kesulitan melakukan kebaikan itu, mungkin karena hatinya Delisa. Hatinya tidak ikhlas! Hatinya jauh dari ketulusan." Begitu kata Ubai salah seorang relawan yang akrab dengan Delisa.

21 Mei 2005

Ubai mengajak Delisa dan murid-muridnya yang lain ke sebuah bukit. Hari itu Delisa sholat dengan bacaan sholat yang sempurna. Tidak terbolak-balik. Delisa bahkan membaca doa dengan sempurna. Usai sholat, Delisa terisak. Ia bahagia sekali. Untuk pertama kalinya ia menyelesaikan sholat dengan baik. Sholat yang indah. Mereka belajar menggurat kaligrafi di atas pasir yang dibawanya dengan ember plastik.
Sebelum pergi meninggalkan bukit itu, Delisa meminta ijin mencuci tangan di sungai dekat dari situ.
Ketika ujung jemarinya menyentuh sejuknya air sungai. Seekor burung belibis terbang di atas kepalanya. Memercikkan air di mukanya.. Delisa terperanjat. Mengangkat kepalanya. Menatap burung tersebut yang terbang menjauh. Ketika itulah Delisa menatap sesuatu di seberang sungai.

Kemilau kuning. Indah menakjubkan, memantulkan cahaya matahari senja. Sesuatu itu terjuntai di sebuah semak belukar indah yang sedang berbuah.
Delisa gentar sekali. Ya Allah! Seuntai kalung yang indah tersangkut. Ada huruf D disana. Delisa serasa mengenalinya. D untuk Delisa. Diatas semak belukar yang merah buahnya. Kalung itu tersangkut di tangan. Tangan yang sudah menjadi kerangka. Sempurna kerangka manusia. Putih. Utuh. Bersandarkan semak belukar itu.

UMMI........ .......
(original message from DATA PURA- PGII (Persatuan Guru Islam Indonesia) Bandung)

Selasa, 15 Juli 2008

Malcolm X - Black Muslim Yang Tercerahkan



Malcolm Little lahir di Omaha, 19 Mei 1925.
Ayahnya Pendeta Baptis bernama Earl Little yang juga aktivis Universal Negro Improvement Association (UNIA), Ibunya bernama Louise little, Malcolm punya 5 orang saudara seibu dan 3 saudara lain ibu.

Masa kecilnya dihabiskan di Lansing, Michigan. Keluarganya tinggal di sebuah ladang dengan kondisi yang memprihatinkan.
Apalagi setelah ayahnya terbunuh oleh Ku Klux Klan di tahun 1931. Keluarga Little ini berantakan. Ibunya masuk rumah sakit jiwa. Malcolm bersaudara harus tinggal di panti asuhan dan sebagian lagi tinggal di bersama orang lain. Malcolm sendiri sempat empat kali tinggal di empat keluarga berbeda.

Ketika SMP, Malcolm tergolong siswa yang pandai. Bahkan ia bercita-cita ingin menjadi pengacara. Namun, menurut guru Bahasa Inggrisnya, Ostrowski, cita-cita itu sangat tidak realistis bagi seorang anak negro. Gurunya itu menyarankan agar ia mengejar karir sebagai tukang kayu saja. Kenyataan pahit ini membuat Malcolm frustasi. Dengan membawa rasa frustasi itu, pada tahun 1941 ia pindah ke Boston ikut kakaknya seayah yang bernama Ella.

Di Boston ia salah bergaul. Teman barunya, Shorty, mengajaknya menjadi tukang semir sepatu di sebuah balai dansa. Namun, mereka bersama Sophia, pacar Malcolm yang berkulit putih– punya pekerjaan sampingan sebagai calo dan pelaku kriminal. Mulai dari mecuri hingga menggarong. Bahkan, Malcolm menjadi seorang pecandu narkotika. Sampai kemudian polisi menangkap mereka. Malcolm masuk bui.

Tujuh tahun tinggal di penjara dari tahun 1946-1952 menjadi berkah bagi Malcolm remaja. Ini titik balik pertama dalam hidupnya. Atas dorongan teman satu selnya, Bimbi, Malcolm remaja belajar membaca dan menulis. Ia melalap buku-buku yang ada di perpustakaan penjara. Bahkan, ia ikut berbagai kursus korespondensi.

Pada tahun 1948, adiknya Reginald menyatakan bisa mengeluarkan Malcolm dari penjara dengan syarat ia berhenti merokok dan berhenti makan daging babi.
Reginald berusaha mengislamkan Malcolm dan mengajaknya masuk ke dalam barisan Back Muslims atau The Nation of Islam yang didirikan oleh Elijah Muhammad.

Ajaran Elijah Muhammad menarik minat Malcolm yang mengaku dirinya atheis.
Ia setuju masuk The Nation of Islam yang bertujuan memisahkan ras kulit hitam dari ras kulit putih.
Bahkan, Malcolm percaya betul dengan ajaran Elijah bahwa orang kulit putih bertabiat jahat dan tidak bisa dipercaya.

Sebagai tanda keanggotaan, ia memakai nama Malcolm X.

X adalah simbol yang dipakai pengikut Black Muslims untuk menyatakan bahwa mereka adalah generasi yang hilang. Manusia yang tercerabut dari asal-usulnya akibat perdagangan manusia yang dilakukan oleh orang kulit putih. Mereka diculik dari Afrika, dibawa dan dijual di Amerika sebagai budak.

Tahun 1952 Malcolm bebas bersyarat. Ia bekerja di pabrik mobil dan tinggal bersama kakaknya, Wilfred, yang juga anggota Black Muslims. Kemudian ia menemui Elijah Muhamamad di Chicago. Malcolm belajar Islam dan ajaran The Nation of Islam langsung dari sang pendiri. Setahun kemudian Malcolm kembali ke Boston untuk mengorganisasikan sebuah masjid. Atas keberhasilannya itu, ia diangkat menjadi imam Masjid Tujuh (Temple Seven) di Harlem.

Selama sepuluh tahun kemudian The Nation of Islam berkembang pesat. Masjid bertambah sebagaimana bertambahnya pengikutnya. The Nation of Islam menjadi gerakan nasional berpengaruh. Malcolm menjadi juru bicara utama gerakan pemisahan warga kulit hitam dari warga kulit putih yang dicita-citakan Elijah Muhammad.

Tahun 1958 Malcolm menikahi Betty X.
Dari pernikahan selama 7 tahun mereka dikaruniai 4 orang anak: Attilah, Qubilah, Illyasah, dan Amiliah.

Tahun 1959 gerakan The Nation of Islam dikenal secara nasional. Malcolm X pun mendapat publikasi yang luar biasa, melebihi Elijah Muhammad sang pendiri. Bahkan, media massa menyebut Malcolm X sebagai simbol kebencian rasial.

Elijah khawatir akan popularitas Malcolm X. Ia tak ingin pengaruh Malcolm semakin kuat. Karena itu, ia menarik dukungan. Ketika hubungan mereka semakin renggang, Elijah memecat Malcolm X dari The Nation of Islam. Bahkan, ia memerintahkan orang untuk membunuh Malcolm X.

Setelah keluar dari The Nation of Islam, Malcolm X mendirikan organisasinya sendiri. Ia juga melakukan perjalanan haji ke Mekkah. Di Tanah Suci terbukalah cakrawala pikirannya. Ia baru tahu ajaran Islam yang sesungguhnya.

Kebencian terhadap ras kulit putih adalah pemikiran yang keliru.
Islam tidak membeda-bedakan warna kulit.

Kebencian yang timbul antara kaum negro dan kaum kulit putih di Amerika bukanlah masalah perbedaan warna, tetapi karena kesalahan sikap dan perilaku.
Karena itu, Malcolm X sadar bahwa satu-satunya cara mengatasi pertikaian rasial adalah dengan menerima prinsip kesamaan derajat manusia dan keesaan Tuhan.
Inilah kebenaran yang diabaikan oleh bangsa kulit putih Amerika.

Setelah berhaji dengan penuh kontemplasi, Malcolm X bersalin nama menjadi El Hajj Malik El Syabazz. Selama menjadi tamu pribadi Pangeran Faisal, Malik El Syabazz banyak berdiskusi tentang perbandingan ajaran Elijah Muhammad dengan ajaran Islam yang sebenarnya.

Ia sadar betul ajaran Elijah keliru.
Selama berhaji ia merasa dirinya sebagai manusia yang utuh.
Itu perasaan yang tidak pernah dirasakannya selama hidup di negerinya, Amerika.
Di Mekkah semua orang saling menghargai dan tidak mempermasalahkan warna kulit.

Pada perjalanan keduanya ke Timur Tengah di tahun 1964, Malik El Syabazz menyempatkan diri berkunjung ke Afrika, negeri leluhurnya.
Selama delapan pekan dia beraudiensi dengan Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser,
Presiden Nigeria Nnamoi Azikiwe,
Presiden Tanzania Julius K. Nyarere,
Presiden Guinea Sekou Toure,
Presiden Kenya Jomo Kenyatta, dan
Perdana Menteri Uganda Milton Obote.
Ia juga bertemu dengan para pemimpin agama berkebangsaan Afrika, Arab, dan Asia, baik muslim dan non-muslim.

Sepulangnya ke Amerika, ia punya perspektif yang berbeda dari sebelumnya. Ia kembali melakukan dakwahnya.
Kali ini ia menyerukan kebenaran sejati yang ditemukannya di Mekkah.

Kepada teman-temannya yang beragam – ada Kristen, Yahudi, Budha, Hindu, Atheis, sosialis, kapitalis, komunis, kaum moderat, konservatif, dan ekstremis -
ia katakan manusia akan memperoleh kedamaian sejati jika mau menyerahkan diri kepada Allah Sang Pencipta.

Namun, perubahan pemikiran itu bukan tanpa risiko. Malik El Syabazz dibayang-bayangi orang yang ingin membunuhnya.
Khususnya orang-orang dari The Nation of Islam.

Pada hari Ahad, 21 Februari 1965, Malik El Syabazz terbunuh.
Tiga orang yang duduk dekat panggung menembaknya saat ia berpidato di sebuah pertemuan organisasi persatuan orang-orang Amerika Hitam di Harlem.
Malik El Syabazz menghadap Allah SWT sebagai seorang muslim yang tercerahkan.

Semoga Alloh Ridho terhadap perjuangan nya .

Rabu, 09 Juli 2008

Ada Segenggam Asa di Paris

Oleh Ellina Supendy



Malikah adalah seorang sahabatku yang telah beberapa tahun menetap di Moskow.

Seorang perawat kelahiran Grozny, Chechnya, yang memiliki tiga cahaya mata,Muhammad, Madina dan Mansur.

Suaminya, Baudin Natzaev, seorang insinyur metalurgi, mantan mandor pabrik logam besar di Grozny yang sangat mahir membuat perkakas besi termasuk senjata.



Sebatang pipa besi bekas dan lempeng-lempeng baja kecil plus pegas mudah saja dikemasnya menjadi sebuah ‚Kalashnikov’ yang sangat berbahaya. Namun Baudin berhati lembut dan sangat menyayangi keluarganya. Kedatangan mereka mengadu nasib di Moskow tidak lain karena tidak ada lagi kehidupan di Grozny yang telah menjadi kota mati, luluh lantak dalam perang berkepanjangan tanpa henti.



Malikah bekerja di sebuah rumah sakit di tengah kita Moskow.

Pekerjaan yang mulia namun sepertinya tidak begitu dinikmatinya.

Malikah merasakan bahwa dia masih dibedakan dengan orang setempat, terutama masalah gaji dan perlakuan.



Dia pernah mengatakan padaku bahwa kerap kali dia keluar rumah memakai platok atau kerudung kecil ala wanita Russia.

Namun masih saja dia bisa dibedakan sebagai wanita kaukasus yang sepertinya layak diasingkan.



Tak dapat dipungkiri bahwa orang Russia masih berjarak dengan orang Chechnya hingga saat ini, dan yang paling merasakan gejolak peperangan tersebut adalah masyarakatnya. Padahal jika kulihat sekilas, wajah Malika tak begitu kentara sebagai wanita Cechnya yang kebanyakan yang biasanya berambut hitam dan bermata setajam pisau.

Rambutnya pirang agak kecoklatan dan berkulit putih pucat seperti orang Russia lainnya.

Namun mereka masih bisa mengenalinya terutama dari logatnya yang berbeda.



Malikah banyak memberi ilmu padaku tentang bagaimana cara mengobati penyakit di musim dingin yang sangat rentan itu.

Oleh karenanya aku sangat bersyukur dikaruniai sahabat seperti dirinya.

Padahal perkenalan kami terbilang sangat unik.

Waktu itu kami tinggal di sebuah apartemen lokal yang tergolong murah.



Malikah datang mengetuk pintu dan mengajak kami ke rumahnya yang berada tepat di bawah kami.

Ternyata apartemennya terkena tetesan air dari kamar mandi kami yang bocor.

Peristiwa itulah yang menjadi kenangan hingga akhirnya kami bersahabat dengannya.



Ibundanya pun dekat dengan kami.

Setiap kali saya datang ke rumahnya, ibunda Malikah selalu ingin mendengar saya membacakan surat Yasin.

Dan air matapun mengalir dari pipinya yang sudah keriput itu.

Beliau mengatakan sangat ingin mendengar anak atau cucunya dapat fasih membaca lantunan ayat suci Quran yang biasa didengarnya dahulu di Kota Grozhny.

Namun hal itu hanya menjadi harapannya saja.

Karena saat ini banyak generasi Chechnya yang jauh dari nilai-nilai ke-Islaman dan hanya menganggap Islam sebagai budaya saja.

Oleh karena itu Malikah dan Baudin meminta kami mengajarkan Muhammed, Madina, dan Mansyur untuk membaca iqro sepekan sekali.



Ada harapan dari Malikah dan keluarganya untuk tidak berlama-lama di Russia.

Dia mengatakan bahwa kecerdasannya dan suaminya sangat mahal harganya dan layak diperlakukan lebih baik.

Hingga terbetik harapan untuk hijrah ke negara lain.



Selang beberapa waktu, kami diundang ke rumahnya untuk acara perpisahan.

Ternyata Perancis bersedia menampung Malikah dan keluarganya untuk menetap.

Mereka telah siap jiwa dan raga untuk membangun kehidupan yang lebih baik di kota Paris.



Sedih rasanya berpisah, namun demi sebuah harapan yang lebih baik.

Apa lagi yang dapat kuberikan selain doa dan turut merasa bahagia untuk mereka.

Insya Allah ikatan ini takkan putus, di manapun kalian berada dan di manapun kami berada.

Bumi Allah begitu luas untuk dijadikan pijakan dan harapan untuk merenda kehidupan yang lebih baik.

Jumat, 25 April 2008

SYAIR PENJUAL KACANG

SYAIR PENJUAL KACANG
-------------------------------------
Emha Ainun Nadjib (1987)



Al-Habib , seorang yang dikasihi oleh banyak orang dan senantiasa didambakan kemuliaan hatinya, malam itu mengimami sholat isya suatu jamaah yang terdiri dari para pejabat negara dan pemuka masyarakat.


Berbeda dengan adatnya, sesudah tahiyyat akhir diakhiri dengan salam,
Al-Habib langsung membalikan tubuhnya, menghadapkan wajahnya
kepada para jamaah dan menyorotkan matanya tajam-tajam.

" Salah seorang dari kalian keluarlah sejenak dari ruang ini, "
katanya, " Di halaman depan sedang berdiri seorang penjual kacang godok.

Keluarkan sebagian dari uang kalian, belilah barang beberapa bungkus."

Beberapa orang langsung berdiri dan berlari keluar, dan kembali
ke ruangan beberapa saat kemudian.

" Makanlah kalian semua, " lanjut Al-Habib, "Makanlah biji-biji kacang itu, yang diciptakan oleh Alloh dengan kemuliaan , yang dijual oleh kemuliaan dan dibeli oleh kemuliaan. "

Para jamaah tak begitu memahami kata-kata

Al- abib, sehingga sambil menguliti dan memakan kacang, wajah mereka tampak kosong.

" Setiap penerimaan dan pengeluaran uang," kata Al-Habib, hendaklah dipertimbangkan berdasarkan nilai kemuliaan.

Bagaimana mencari uang, bagaimana sifat proses datangnya uang ke saku kalian, untuk apa dan kepada siapa uang itu dibelanjakan atau diberikan, akan menjadi ibadah yang tinggi derajatnya apabila diberangkatkan dari perhitungan untuk memperoleh kemuliaan."

" Tetapi ya Habib, seorang bertanya, " apa hubungan antara kita beli kacang malam ini dengan kemuliaan ? " Al-habib menjawab,

" Penjual kacang itu bekerja sampai larut malam atau bahkan sampai menjelang pagi.Ia menyusuri jalanan, menembus gang-gang kota dan kampung-kampung.

Di malam hari pada umumnya orang tidur, tetapi penjual kacang itu amat yakin bahwa Alloh membagi rejeki bahkan kepada seekor nyamuk
pun.

Itu taqwa namanya.

Berbeda dari sebagian kalian yang sering tak yakin akan kemurahan Alloh, sehingga cemas dan untuk menghilangkan kecemasan hidupnya ia lantas melakukan korupsi, menjilat atasan serta bersedia melakukan dosa apa pun saja asal mendatangkan uang. "


Suasana menjadi hening.

Para jamaah menundukkan kepala dalam-dalam.

Dan Al-Habib meneruskan, " Istri dan anak penjual kacang itu menunggu di rumah, meunggu dua atau tiga ribu rupiah hasil kerja semalaman.

Mereka ikhlas dalam keadaan itu.Penjual kacang itu tidak mencuri
atau memperoleh uang secara jalan pintas lainnya.

Kalau ia punya situasi mental mencuri, tidaklah ia akan tahan berjam-jam berjualan. "


" Punyakah kalian ketahanan mental setinggi itu ? " Al-Habib bertanya,

" Lebih muliakah kalian dibanding penjual kacang itu, atau ia lebih mulia dari kalian ?

Lebih rendahkah derajat penjual kacang itu dibanding kalian, atau di mata Alloh ia lebih tinggi maqom-nya dari kalian ?

Kalau demikian, kenapa dihati kalian selalu ada perasaan dan anggapan bahwa
seorang penjual kacang adalah orang rendah dan orang kecil ? "


Dan ketika akhirnya Al-Habib mengatakan, " Maha Mulia Alloh yang
menciptakan kacang,

sangat mulia si penjual kacang itu dalam pekerjaannya,

serta mulia pulalah kalian yang membeli kacang berdasar makrifat terhadap kemuliaan....".


Salah seorang berteriak, melompat dan memeluk tubuh Al -Habib erat-erat.



* dari :
Emha Ainun Nadjib
Seribu masjid Satu jumlahnya
Tahajjud cinta seorang hamba
Penerbit Mizan 1995

Kamis, 28 Februari 2008

Kisah Menakjubkan [1]

Kisah Menakjubkan[1]

(tentang sabar dan syukur kepada Allah)

Bagi orang yang sering mengamati isnad hadits maka nama Abu Qilabah bukanlah satu nama yang asing karena sering sekali ia disebutkan dalam isnad-isnad hadits, terutama karena ia adalah seorang perawi yang meriwayatkan hadits dari sahabat Anas bin Malik yang merupakan salah seorang dari tujuh sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu nama Abu Qilabah sering berulang-ulang seiring dengan sering diulangnya nama Anas bin Malik.Ibnu Hibban dalam kitabnya Ats-Tsiqoot menyebutkan kisah yang ajaib dan menakjubkan tentangnya yang menunjukan akan kuatnya keimanannya kepada Allah.

Nama beliau adalah Abdullah bin Zaid Al-Jarmi salah seorang dari para ahli ibadah dan ahli zuhud yang berasal dari Al-Bashroh. Beliau meriwayatkan hadits dari sahabat Anas bin Malik dan sahabat Malik bin Al-Huwairits –radhiallahu ‘anhuma- . Beliau wafat di negeri Syam pada tahun 104 Hijriah pada masa kekuasaan Yazid bin Abdilmalik.

Abdullah bin Muhammad berkata, “Aku keluar menuju tepi pantai dalam rangka untuk mengawasi (menjaga) kawasan pantai (dari kedatangan musuh)…tatkala aku tiba di tepi pantai, tiba-tiba aku telah berada di sebuah dataran lapang di suatu tempat (di tepi pantai) dan di dataran tersebut terdapat sebuah kemah yang di dalamnya ada seseorang yang telah buntung kedua tangan dan kedua kakinya, dan pendengarannya telah lemah serta matanya telah rabun. Tidak satu anggota tubuhnyapun yang bermanfaat baginya kecuali lisannya, orang itu berkata, “Ya Allah, tunjukilah aku agar aku bisa memuji-Mu sehingga aku bisa menunaikan rasa syukurku atas kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan Engkau sungguh telah melebihkan aku diatas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan”“

Abdullah bin Muhammad berkata, “Demi Allah aku akan mendatangi orang ini, dan aku akan bertanya kepadanya bagaimana ia bisa mengucapkan perkataan ini, apakah ia faham dan tahu dengan apa yang diucapkannya itu?, ataukah ucapannya itu merupakan ilham yang diberikan kepadanya??.

Maka akupun mendatanginya lalu aku mengucapkan salam kepadanya, lalu kukatakan kepadanya, “Aku mendengar engkau berkata “Ya Allah, tunjukilah aku agar aku bisa memujiMu sehingga aku bisa menunaikan rasa syukurku atas kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau anugrahkan kepadaku dan Engkau sungguh telah melebihkan aku diatas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan“, maka nikmat manakah yang telah Allah anugerahkan kepadamu sehingga engkau memuji Allah atas nikmat tersebut?? dan kelebihan apakah yang telah Allah anugerahkan kepadamu hingga engkau mensukurinya??”

Orang itu berkata, “Tidakkah engkau melihat apa yang telah dilakukan oleh Robku kepadaku? Demi Allah, seandainya Ia mengirim halilintar kepadaku hingga membakar tubuhku atau memerintahkan gunung-gunung untuk menindihku hingga menghancurkan tubuhku, atau memerintahkan laut untuk menenggelamkan aku, atau memerintahkan bumi untuk menelan tubuhku, maka tidaklah hal itu kecuali semakin membuat aku bersyukur kepadaNya, karena Ia telah memberikan kenikmatan kepadaku berupa lidah (lisan)ku ini. Namun, wahai hamba Allah, engkau telah mendatangiku maka aku perlu bantuanmu, engkau telah melihat kondisiku. Aku tidak mampu untuk membantu diriku sendiri atau mencegah diriku dari gangguan, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku memiliki seorang putra yang selalu melayaniku, di saat tiba waktu sholat ia mewudhukan aku, jika aku lapar maka ia menyuapiku, jika aku haus maka ia memberikan aku minum, namun sudah tiga hari ini aku kehilangan dirinya. Maka tolonglah aku, carilah kabar tentangnya –semoga Allah merahmati engkau-”.

Aku berkata, “Demi Allah tidaklah seseorang berjalan menunaikan keperluan seorang saudaranya yang ia memperoleh pahala yang sangat besar di sisi Allah, lantas pahalanya lebih besar dari seseorang yang berjalan untuk menunaikan keperluan dan kebutuhan orang yang seperti engkau”.

Maka akupun berjalan mencari putra orang tersebut hingga tidak jauh dari situ aku sampai di suatu gundukan pasir. Tiba-tiba aku mendapati putra orang tersebut telah diterkam dan dimakan oleh binatang buas. Akupun mengucapkan inna lillah wa inna ilaihi roji’uun. Aku berkata, “Bagaimana aku mengabarkan hal ini kepada orang tersebut??”. Dan tatkala aku tengah kembali menuju orang tersebut, maka terlintas di benakku kisah Nabi Ayyub ‘alaihi as-Salam. Lalu aku menemui orang tersebut dan akupun mengucapkan salam kepadanya lalu ia menjawab salamku dan berkata, “Bukankah engkau adalah orang yang tadi menemuiku?”, aku berkata, “Benar”. Ia berkata, “Bagaimana dengan permintaanku kepadamu untuk membantuku?”.

Akupun berkata kepadanya, “Engkau lebih mulia di sisi Allah ataukah Nabi Ayyub ‘alaihis Salam?”, ia berkata, “Tentu Nabi Ayyub ‘alaihis Salam “, aku berkata, “Tahukah engkau cobaan yang telah diberikan Allah kepada Nabi Ayyub?, bukankah Allah telah mengujinya dengan hartanya, keluarganya, serta anaknya?”, orang itu berkata, “Tentu aku tahu”. Aku berkata, “Bagaimanakah sikap Nabi Ayyub dengan cobaan tersebut?”, ia berkata, “Nabi Ayyub bersabar, bersyukur, dan memuji Allah”.

Aku berkata, “Tidak hanya itu, bahkan ia dijauhi oleh karib kerabatnya dan sahabat-sahabatnya”. Ia berkata, “Benar”. Aku berkata, “Bagaimanakah sikapnya?”, ia berkata, “Ia bersabar, bersyukur dan memuji Allah”. Aku berkata, “Tidak hanya itu, Allah menjadikan ia menjadi bahan ejekan dan gunjingan orang-orang yang lewat di jalan, tahukah engkau akan hal itu?”, ia berkata, “Iya”, aku berkata, “Bagaimanakah sikap nabi Ayyub?” Ia berkata, “Ia bersabar, bersyukur, dan memuji Allah, langsung saja jelaskan maksudmu –semoga Allah merahmatimu-!!”.

Aku berkata, “Sesungguhnya putramu telah aku temukan di antara gundukan pasir dalam keadaan telah diterkam dan dimakan oleh binatang buas, semoga Allah melipatgandakan pahala bagimu dan menyabarkan engkau”. Orang itu berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak menciptakan bagiku keturunan yang bermaksiat kepadaNya lalu Ia menyiksanya dengan api neraka”, kemudian ia berkata, “Inna lillah wa inna ilaihi roji’uun“, lalu ia menarik nafas yang panjang lalu meninggal dunia.

Aku berkata, “Inna lillah wa inna ilaihi roji’uun“, besar musibahku, orang seperti ini jika aku biarkan begitu saja maka akan dimakan oleh binatang buas, dan jika aku hanya duduk maka aku tidak bisa melakukan apa-apa[2]. Lalu akupun menyelimutinya dengan kain yang ada di tubuhnya dan aku duduk di dekat kepalanya sambil menangis.

Tiba-tiba datang kepadaku empat orang dan berkata kepadaku “Wahai Abdullah, ada apa denganmu?, apa yang telah terjadi?”. Maka akupun menceritakan kepada mereka apa yang telah aku alami. Lalu mereka berkata, “Bukalah wajah orang itu, siapa tahu kami mengenalnya!”, maka akupun membuka wajahnya, lalu merekapun bersungkur mencium keningnya, mencium kedua tangannya, lalu mereka berkata, “Demi Allah, matanya selalu tunduk dari melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah, demi Allah tubuhnya selalu sujud tatkala orang-orang dalam keadaan tidur!!”.

Aku bertanya kepada mereka, “Siapakah orang ini –semoga Allah merahmati kalian-?”, mereka berkata, Abu Qilabah Al-Jarmi sahabat Ibnu ‘Abbas, ia sangat cinta kepada Allah dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu kamipun memandikannya dan mengafaninya dengan pakaian yang kami pakai, lalu kami menyolatinya dan menguburkannya, lalu merekapun berpaling dan akupun pergi menuju pos penjagaanku di kawasan perbatasan.

Tatkala tiba malam hari, akupun tidur dan aku melihat di dalam mimpi ia berada di taman surga dalam keadaan memakai dua lembar kain dari kain surga sambil membaca firman Allah

}سَلامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ| (الرعد:24)

“Keselamatan bagi kalian (dengan masuk ke dalam surga) karena kesabaran kalian, maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. 13:24)

Lalu aku berkata kepadanya, “Bukankah engkau adalah orang yang aku temui?”, ia berkata, “Benar”, aku berkata, “Bagaimana engkau bisa memperoleh ini semua”, ia berkata, “Sesungguhnya Allah menyediakan derajat-derajat kemuliaan yang tinggi yang tidak bisa diperoleh kecuali dengan sikap sabar tatkala ditimpa dengan bencana, dan rasa syukur tatkala dalam keadaan lapang dan tentram bersama dengan rasa takut kepada Allah baik dalam keadaan bersendirian maupun dalam kaeadaan di depan khalayak ramai”


[1] Diterjemahkan oleh Ustadz Abu Abdilmuhsin Firanda dari Kitab Ats-Tsiqoot karya Ibnu Hibban, tahqiq As-Sayyid Syarofuddin Ahmad, terbitan Darul Fikr, (jilid 5 halaman 2-5)

[2] Hal ini karena biasanya daerah perbatasan jauh dari keramaian manusia, dan kemungkinan Abdullah tidak membawa peralatan untuk menguburkan orang tersebut, sehingga jika ia hendak pergi mencari alat untuk menguburkan orang tersebut maka bisa saja datang binatang buas memakannya, Wallahu a’lam

Rabu, 06 Februari 2008

Sufyan Bin ‘Uyainah Rahimahullah (Kunikahi dia karena Agamanya)

Orang alim ini dilahirkan pada tahun 107 H pada pertengahan bulan Syawwal, dan ajal menjemputnya pada hari Sabtu, 1 Rajab 198 H. Nasab lengkapnya, Sufyan bin ‘Uyainah bin Abi ‘Imran al Kufi. Dia dikenal dengan panggilan Abu Muhammad.

Ayahnya seorang pegawai pada masa Khalid bin Abdillah Al Qasri. Tatkala Khalid diberhentikan dari jabatan Gubernur Iraq dan digantikan oleh Yusuf bin Umar ats Tsaqafi, pejabat baru ini mencari-cari para staff pada masa pemerintahan Khalid, sehingga mereka berlarian untuk menyembunyikan diri. ‘Uyainah, Ayah Sufyan kecil, melarikan diri sampai ke kota Mekkah dan akhirnya memutuskan berdomisili disana.

Ketika ia menapak usia lima belas tahun, ayahku memanggil, seraya berpesan : “Wahai Sufyan! Masa kanak-kanak sudah lepas darimu, maka kejarlah kebaikan, supaya engkau termasuk orang-orang yang mengejarnya. Jangan tertipu dengan pujian orang-orang yang menyanjungmu dengan pujian yang Allah mengetahui, bahwa keadaanmu berlawanan dengan itu. Sebab, tidak ada orang yang berkata baik kepada orang lain tatkala ia sedang senang, kecuali ia akan berkata kejelekan kepadanya serupa ketika ia sedang dilanda amarah. Nikmati kesendirian daripada bergaul dengan kawan-kawan yang buruk. Jangan engkau alihkan prsangka baikku kepadamu kepada prasangka lain. Dan tidak akan ada orang yang berbahagia bersama dengan ulama, kecuali orang-orang yang mentaati mereka”.

Mendengar nasihat ayahnya ini Sufyan berkata dalam hati : ”Sejak itu, aku menjadikan pesan Ayah sebagai arah kompasku, berjalan bersamanya, tidak menyimpang darinya”.

Begitulah yang ia jalani. Sejak usia dini, ulama besar ini telah menyibukkan diri pada pendalaman ilmu din. Tepatnya pada tahun 119 H.

Ibnu ’Uyainah mengisahkan tentang dirinya : ”Aku keluar menuju masjid, dan aku melihat-lihat halaqah-halaqah (majlis ilmu) yang ada. Bila aku lihat ada kumpulan ulama dan orang-orang tua, maka aku menghampirinya”.

Dia menceritakan: ”Aku duduk di majlis ilmu Ibnu Syihab dalam usia enam belas tahun tiga bulan”.

Salah satu yang menunjukkan keberuntungannya, sebanyak delapan puluh ulama besar dari kalangan tabi’in sempat ia jumpai. Misalnya, ’Amr bin Dinas, az Zuhri, Muhammad bin al Munkadir, al A’masy, Sulaiman at Taimi, Humaid ath Thawil.

Tentang kekuatan hafalannya, ia berkata, ”Aku tidak pernah menulis sesuatu, kecuali sudah aku hafal sebelum aku menuliskannya.”

Tak pelak, berkat pergaulannya dengan ulama-ulama besar, telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang teguh, luas ilmunya dan mendalam. Ia menjadi nara sumber dalam berbagai permasalahan dan tempat curahan isi hati.

Yahya bin Yahya an Naisaburi menceritakan: ”Suatu hari, ada seorang lelaki mendatangi Sufyan dengan berkata : ’Wahai , Aba Muhammad (yang dimaksud adalah Sufyan). Aku ingin mengadukan kepadamu tentang keadaan istriku. Aku menjadi lelaki yang paling hina dan rendah dimatanya”.

Maka Sufyan menggeleng-gelengkan kepala heran, dan kemudian berujar : ”Mungkin, keadaan itu muncul karena engkau menikahainya untuk meraih kehormatan?”

Lelaki itu pun mengakuinya: ”Ya, betul wahai Aba Muhammad”.

Sufyan lalu berpesan: ”Barang siapa pergi karena mencari kehormatan, niscaya akan diuji dengan kehinaan. Barangsiapa mengerjakan sesuatu lantaran dorongan harta, niscaya akan diuji dengan kefakiran. Barang siapa bergerak karena dorongan din, niscaya Allah akan menghimpun kehormatan dan harta bersama dinnya”.

Berikutnya, Sufyan mulai berkisah :

”Kami adalah empat bersaudara, Muhammad, Imran, Ibrahim, dan aku sendiri. Muhammad adalah kakak sulung., Imran anak bungsu. Sedangkan aku berada di tengah-tengah. Tatkala Muhammad ingin menikah, ia menginginkan kemuliaan nasab. Maka ia menikahi wanita yang lebih tinggi status sosialnya. Kemudian Allah mengujinya dengan kehinaan.

Sedangkan Imran, (saat menikah) ingin mendapatkan harta. Maka ia menikahi wanita yang lebih kaya dari dirinya. Allah kemudian mengujinya dengan kemiskinan.

Keluarga wanita mengambil seluruh yang dimilikinya, tidak menyisakan sedikitpun.
Aku pun merenungkan nasib keduanya. Sampai akhirnya Ma’mar bin Rasyid datang menghampiriku. Aku pun berdiskusi dengannya. Aku ceritakan kepadanya peristiwa yang menimpa para saudaraku. Ia mengingatkanku dengan hadits Yahya bin Ja’daj dan hadits ’Aisyah.

Hadits Yahya bin Ja’dah yang dimaksud, yaitu sabda Nabi Shollallahu ’alayhi wa sallam:

”Wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, status sosialnya, kecantikannya dan dinnya. Carilah waniya yang beragama, niscaya tanganmu akan beruntung”.

Sedangkan hadits ’Aisyah, Nabi Shollallahu ’alayhi wa Sallam bersabda :

Wanita yang paling besar berkahnya adalah waniya yang paling ringan beban pembiayaannya”

Maka, aku memutuskan untuk memilih bagi diriku (wanita yang) memiliki din dan beban yang ringan untuk mengikuti Sunnah Rasulullah Shollallahu ’alayhi wa sallam. Allah menghimpunkan bagiku kehormatan dan limpahan harta dengan sebab agamanya”.

Itulah salah satu hikmah yang muncul dari lisannya. Tidak sedikit untaian hikmah dari Sufyan yang mencerminkan kedekatannya dengan Al Khaliq, Allah Subhaanahu wa Ta’Ala.

Sufyan bin ’Uyainah pernah ditanya tentang hakikat wara’, Dia pun menjelaskan, wara’ adalah keinginan untuk mendalami ilmu din yang menjadi sarana untuk mengenal seluk-beluk wara’. Sebagian orang menganggap sikap wara’ tercermin pada sikap diam dalam waktu yang lama dan sedikit bicara, padahal tidak demikian. Menurut kami, sesungguhnya orang yang berbicara lagi alim, itu lebih afdhal dan lebih wara’ dibandingkan lelaki yang jahil lagi diam.

Sufyan bin ’Uyainah juga memiliki hikmah yang menunjukkan kedalaman ilmunya. Dia menyatakan, permisalan ilmu adalah bagaikan negeri kufur atas negeri Islam. Apabila penganut Islam meninggalkan jihad, niscaya orang-orang kafir akan datang dan mengambil Islam. Jika orang-orang meninggalkan ilmu, maka mereka menjadi manusia-manusia bodoh.

Tentang pentingnya menyampaikan ilmu yang sudah diketahui, dia berkata : ”Tidaklah disebut (sebagai) alim orang yang mengetahui kebenaran dan kejelekan. Tetapi, orang alim sejati ialah orang yang mengetahui kebaikan dan mengikutinya, serta mengetahui kejelekan dan menjauhinya”.

Semoga Allah menganugerahinya dengan rahmat yang luas dan menempatkannya di surga-Nya yang tertinggi.
Diketik kembali oleh Ummu ’Umar dari Majalah As-Sunnah Edisi 10/IX/1426H/2005M

Yang mana tulisan dari Majalah As Sunnah tersebut bersumber dari Tahdzibul Kamal fi Asma-i ar Rijal (3/223-228) karya Aal Hafizh Jamaluddin Abul Hajjaj Yusuf al Mizzi, tahqiq Basyyar Awwad Ma’ruf, Muassasah ar Risalah, Cetakan 1 Tahun 1418 H – 1998 M

http://jilbab.or.id