Ahlan Wa Sahlan

IQRO ( BACALAH )

Bacalah dirimu, Bacalah dari apa engkau dijadikan

Bacalah kejadian demi kejadian, Bacalah masa lalu, dan apa-apa yang ditinggalkan, Bacalah masa kini, dan apa-apa yang ada disekitarmu, Bacalah masa yang akan datang dan apa-apa yang akan dan tentu terjadinya.

Sungguh ALLOH telah memberimu berlimpah-limpah, dan tegak kanlah kebenaran itu dengan daya juang yang tak kenal payah dan henti ( sabar),......................

Selamat datang ana ucapkan kepada akhi dan ukhti, semoga apa yang tertulis di blog ini bermanfaat bagi kita dalam menSyiarkan Islam, serta sebagai media bagi kita untuk saling bersilaturahmi.

Kritik dan saran dapat di sampaikan ke is.majid@gmail.com

Wassalam

AddThis

Bookmark and Share

Rabu, 10 Oktober 2007

Ramadhan di Amerika

Ramadhan di Amerika Oleh: DR. Amir Faishol Fath
---------------------------------

Mimpi Di Pagi Hari
Tidak pernah terlintas dalam mimpi, bahwa aku akan sampai ke sebuah negeri yang kita kenal dengan Super Power ini. Negeri tempat bertumpunya harapan dan cita-cita banyak manusia. Setiap hari di depan keduataan Amerika di Jakarta, sejak pagi dini hari nampak pemandangan ratusan orang berbaris antri untuk mendapatkan visa. Tidak kalah dengan antrian orang-orang untuk mendapatkan visa umrah atau haji di depan kedutaan Saudi Arabia. Pada hari itu aku selesai shalat subuh langsung berangkat ke kedutaan. Karena kata sebagian kawan yang pernah punya pengalaman mengurus visa, sepagi itu sudah banyak yang antri. Tadinya aku kurang percaya, tapi ternyata benar, di pagi itu aku sudah termasuk antrian yang agak kebelakang. Dalam benakku terlintas pertanyaan: Apa yang mereka cari di Amerika? Ada apa di Amerika? Kalau aku memang karena mendapatkan undangan ICMI North America untuk safari Ramadhan, mengisi pengajian di tengah masyarakat muslim Indonesia di Amerika.
Dan ternyata aku banyak menyaksikan orang-orang yang mendapatkan visa di hari itu wajahnya cerah ceria, penuh kegembiraan. Wajahnya berbinar-binar, seperti diguyur air hujan yang segar. Aku masih tetap antri, menunggu giliran yang tidak kunjung habis. Dalam hati aku berdoa semoga perjalanan ini –jika Allah mengizinkan- benar-benar membawa berkah seperti berkahnya bulan Ramadhan. Kepada istri aku kirim SMS agar selalu mendoakan yang terbaik. Ayah-ibu pun mendoakan semoga niat yang baik ini tetap dalam lindunganNya. Aku tidak lupa mengontak Bapak Kiyahi di Pondok Pesantren tempat aku belajar dulu. Beliau mendoakan semoga segalanya lancar. Kawan-kawan dan anggota pengajian tafsir di Jakarta, tidak luput aku mintai doa. Mereka semua mengharapkan kebaikan dan keberkahan dari perjalanan yang akan aku lalui.
Sepanjang aku mengantri ternyata tidak semua orang mendapatkan visa. Banyak dari mereka yang kembali dengan tangan kosong. Rata-rata yang mendorong mereka untuk pergi ke Amerika karena bekerja, belajar atau jalan-jalan, menghabiskan dollar yang mereka punya. Sebab kata mereka ada kebanggaan tersendiri jika di rumahnya terpampang foto berdiri di depan gedung Capital Hill yang megah itu. Amerika adalah Amerika. Orang-orang merasa bangga ketika pernah mengunjungi negeri itu. Dan aku sering mendengar dari sebagi kawan yang pernah belajar di sana, bahwa Amerika memang enak. Kemapanan hidup duniawi terpancar di mana-mana. Sringkali –lanjutnya- orang-orang yang pernah merasakan kenyamanan hidup di sana tidak akan mau kembali ke negerinya. Dan ternyata benar, aku banyak menemukan orang-orang dari berbagai Negara –bukan hanya orang Indonesia – yang berusaha mendapatkan green card (kartu hijau untuk tinggal permanin). Sebab memang di Negara maju seperti Amerika kebutuhan dasar
seperti: kesehatan dan pendidikan sangat terjamin. Anak-anak mereka benar-benar mendapatkan pendidikan berkwalitas secara gratis. Orang-orang yang tidak punya tempat tinggal (homeless) ditanggung oleh Negara. Tetapi karena mereka suka mabuk-mabukan, di sebagian tempat kadang aku jumpai di sebagain pojok lampu merah jalan raya mereka ngemis. Ngemis untuk minum-minuman, sebab segala kebutuhan makanan dan tempat tinggal bagi mereka sebenarnya sudah ada.
Aku melihat kenyataan itu, teringat beberapa ayat dalam Al Qur’an yang menekankan pentingnya membangun ruhani. Di antaranya ayat: qad aflaha man zakkaahaa (berbahagialah orang yang membersihkan jiwanya). Benar, bahwa manusia tidak hanya membutuhkan makanan fisik, melainkan di saat yang sama membutuhkan makanan ruhani. Dari banyak obrolan aku temukan data bahwa delapan puluh persen rakyat Amerika pencandu alkohol. Jika data ini benar, sungguh tidak bisa dipungkiri bahwa sudah saatnya manusia bertaubat dari kemaksiatan dan dosa-dosa. Sebab tidak mungkin dosa-dosa bisa memberikan ketenangan terhadap jiwa. Allah Sang Pencipta, Dialah yang mengetahui hakikat manusia. Dalam banyak surat Al Qur’an, Allah swt. tidak pernah bosan mengulang-ulang tentang pentingnya iman dan amal saleh. Dalam surat Al Ashr dengan tegas Allah swt menggambarkan bahwa semua manusia pasti celaka dan menderita bila tidak beriman, beramal shaleh, saling menasihatti dalam kebenaran dan saling menasihati
dalam kesabaran.
Perhatikan betapa kemapanan sebuah negeri secara materi, belum tentu memberikan segalanya bagi kemanusiaan. Manusia bukan hanya mahluk materi, melainkan lebih dari itu ia mahluk ruhani. Karena itu Allah swt. tidak pernah meninggalkan satu kaumpun sepanjang sejarah kecuali diutus kepada mereka nabi-nabi yang akan memberikan bekal ruhani. Mengapa? Karena Allah swt tahu bahwa manusia tidak akan pernah bisa menacapai kebahagiaan jika hanya berbekal materi. Itulah yang sempat aku saksikan di pojok-pojok kota besar di Amerika, orang-orang tidak tahu apa yang harus mereka berikan kepada kemanusiaannya. Mereka mengira bahwa dirinya membutuhkan uang yang banyak, tetapi ternyata setelah semua itu ditangan, mereka masih mencari lagi, sebab kebahagiaan yang mereka kejar tidak mereka dapatkan. Sebagian mereka mengira bahwa itu terdapat dalam pergaulan bebas tanpa batas, namun ternyata segala kebebasan yang mereka capai justru telah membuat mereka terjatuh dalam jurang kebinatangan yang
sangat mengenaskan. Sebagian mereka mengira bahwa kebahagiaan terdapat dalam dunia hiburan dengan cara mabuk-mabukan dan sebagainya, tetapi ternyata semua itu justru kian membuat mereka sengsara.
Ibarat Kapal Besar
Melihat semua itu, aku tertegun. Seketika muncul di benak sebuah perumpamaan yang pernah aku baca di sebuah buku. Bahwa peradaban materialisme yang demikian mapan dan canggih ini ibarat sebuah kapal besar yang indah dan mengagumkan. Setiap orang yang memandangnya terpesona, karena segala dekorasi dan desainnya benar-benar ditangani oleh orang-orang paling ahli pada bidangnya. Lalu orang-orang berlomba-lomba masuk ke dalamnya. Tetapi setelah mereka di dalam, mareka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Pun juga mereka tidak tahu mau dibawa ke mana kepal tersebut. Akhirnya mareka hanya berputar-putar di tengah laut. Di dalam kapal pun mereka tidak punya pekerjaan, kecuali hanya tertawa-tawa, minum-minuman, dan mabuk-mabukan, menunggu kapan kematian harus menjemput mereka.
Memang bila kita teliti lebih mendalam lagi, nampaknya memang benar bahwa di Amerika jumlah orang yang stress karena kekeringan jiwa sangat banyak. Sebagian data mengatakan bahwa penyakit jiwa di Amerika mirip dengan penyakit influenza. Kawan-kawan yang sempat menemani saya menceritakan bahwa pelarian mereka untuk melawan stress selain minum-minuman dan tempat-tempat hiburan adalah makanan. Karenanya banyak orang di mana-mana seringkali aku temui kegemukan. Berat badannya tak terkendalikan. Karena itu bisnis mengurangi berat badan sangat merebak dan laku di Amerika, kata kawan yang lain lagi.
Memang dari perjalanan safari ini banyak keluhan di mana-mana, tentang kekeringan jiwa yang mereka alami. Karenanya mereka sangat gembira ketika disebagian tempat di adakan pengajian. Mereka berlomba datang, terutama ketika mereka mendengar bahwa ada seorang ustadz datang dari Indonesia untuk memberikan siraman ruhani. Banyak cerita yang aku temui bahwa mereka justru semakin kuat mengamalkan Islam setelah sampai di Amerika. Tadinya saat masih di Indonesia, mereka kurang berminat belajar untuk memahami Islam, tetapi setelah sampai di Amerika minat untuk memahami Islam justru semakin kuat. Mereka merasakan bahwa tanpa iman, kehidupan yang mereka jalani benar-benar kering. Ini kesimpulan dari pengalaman yang mereka saksikan langsung di tengah masyarakat sekitar mereka.
Salah seorang mengatakan kepadaku: “Pa Ustadz, semasih aku di Indonesia, aku merasa tidak perlu belajar Islam. Tetapi setelah aku di sini aku baru sadar bahwa Islam benar-benar kebutuhan ruhani. Aku benar-benar tersiksa tanpa iman. Semua kegiatan yang aku lakukan hanyalah kesia-kesiaan. Waktuku habis hanya dengan permainan tanpa makna. Aku benar-benar merasa haus dengan siraman keimanan. Karenanya di mana ada pengajian aku kejar. Sebab dengannya jiwaku benar-benar menjadi hidup”.
“Memang tidak ada pilihan bagi manusia kecuali harus segera kembali kepada Allah” jawabku segera. “Apapun kemewahan yang bisa ia lakukan, kecanggihan teknologi dan kemapanan fasilitas yang ia punya, itu tidak akan pernah memberikan kebahagiaan secara lengkap, bila ruhani kita kering. Bahkan bisa jadi itu akan menjadi bumerang yang akan menghancurkan kemanusiaan itu sendiri. Perhatikan di sekitar kita, betapa banyak yang kehilangan kemanusiaan, hanya karena tidak punya iman. Mereka tidak tahu bagaimana cara hidup menurut Allah swt. Semua cara hidup yang mereka lakukan adalah karangan otak mereka sendiri. Itulah kesibukan pokok mereka hanyalah bekerja keras untuk mencari makan dan minum. Allahu A’lam. (bersambung)

1 Comment:

Nihayatul Wafiroh (Ninik) said...

Terimakasih atas kunjungannya. Selamat idul fitri juga. Semoga idul fitri di US bisa memberikan kedamaian Amin.